Videos

Be My Honeypie

 

 

Romantic videoclip from The Weepies, what yours?

Love Live Wisdom

LLW Love Life Wisdom atau Lesmana, Likumahuwa, Winarta. Thats amazing jazz album ever. Mengingatkan saya pada sebuah album kuning berdebu, perkawinan antara Jack Lesmana, Bubi Chen, album Jazz Masa Lalu dan Masa Kini, dimana Indra Lesmana hanya menjadi bintang tamu di salah satu lagunya.

Lagu pertama, Back Into Sumthin, nada propaganda. Indra Lesmana memberikan leading apik, disambut saut-sautan Barry dan Sandi. Jammin yang unik. Ada sentuhan nuansa folk ringan yang menenangkan.

Stretch and Pause, seperti acid jazz yang menyatukan looping cantik dan balutan elektro magis yang pas. Good job for Dana Boogiemen, DJ Cream dan Indra Aziz.

Bila anda pernah datang ke #mostlyjazz-nya Indra Lesmana, you can feel it, this album seems like a gig. Full jammin and improving.

Smooth Over The Rough, melodi yang sangat smooth, dan Indra Lesmana dengan jeniusnya memberi suasana urban edgy yang berani di lagu ini.

Tapi ada satu hal yang kemudian berbeda ini percampuran antara jazz mainstream dengan percikan nuansa kontemporer.

Semangat membara terdengar jelas di beberapa bagian, Sandy Winarta di Friday Call, liar sekali dia, improvisasi pattern melipir kanan kiri. Di lagu ini dia punya dunia sendiri.

The result was sensational. Dira Sugandhi diggin the blue. Whoa, only one word for Love Life Wisdom song, AWESOMEWith the phenomenal breakthrough you got suprised songLove Life Wisdom extended! Haahahaha, masih Dira Sugandi loh.

Yeay, 7 songs from the Love Life Wisdom. Still remaining, enjoy it and dying to a eargasm sensation. Congrats!

Selamanya Indonesia

 

“kita adalah sayap-sayap sang garuda di atas samudera di langit khatulistiwa semoga namamu sampai ke ujung dunia ceritakan semua indahnya pada mereka”

Tidak banyak musisi yang mengedepankan keistemewaan lirik dalam pembuatan lagu. Beda halnya dengan Twentyfirst Night, mereka tidak hanya memikirkan pemilihan kata dalam lirik namun ada satu pesan yang ingin mereka berikan. Tak sekedar kisah cinta berakhir bahagia atau lirik satir bernuansa ambigu. Satu yang menarik, Twentyfirst Night memiliki lebih dari dua kuintal nyali untuk membawa tema Indonesia dalam lagunya, Selamanya Indonesia. Di tengah krisis kepercayaan dan kondisi Indonesia yang entah berantah. Mereka memberikan optimisme, masih banyak kebaikan di Indonesia dan selamanya Indonesia akan tetap penuh cinta. Cinta? Ada apa dengan sayap garuda dan beberapa kata yang menyiratkan kewajiban kita untuk menjaga Indonesia? Singkat saja, Twentyfirst Night hanya ingin memberikan sikap lugas, Indonesia akan maju bila kita maju bersama. Apatis di saat kritis? Itu pilihan, namun alangkah baiknya bila kaum muda menyatukan tekad untuk memberikan yang terbaik, bukan untuk kepentingan apa-apa, hanya untuk Indonesia. Seperti beberapa pertanyaan retorik yang kerap kali dilontarkan kaum muda. Mengapa harus cinta Indonesia? Mengapa harus peduli pada Indonesia? Indonesia itu ibarat sahabat yang sebenarnya tak perlu kita beri apa-apa, dia pun tak minta apa-apa. Lalu, apakah disaat seperti ini kita akan diam dan pura-pura tak tahu apa-apa. Lihat saja video klip Twentyfirst Night ini, tak perlu banyak alasan untuk sebuah cinta. Kita menjaganya karena kebutuhan bukan keharusan. Kita dan Indonesia sebenarnya saling mencintai. Tapi seperti diam-diam.

Arian 13 Bicara Tentang Bad Review

Ketika sebuah cita-cita menggantung di tepi dan dua langkah pijak lagi tercapai, pekerja seni mengalami satu proses pemantapan, bukan hanya dari pasar yang mengapresiasi namun dari penentu alur pasar, yaitu media. Kerap kali media me-review karya dengan beberapa pandangan yang berbeda tergantung dari rasa dan karakter media tersebut. Dan sebagai sebuah karya yang ingin dikenal, tentunya kita membutuhkan dukungan dari media, namun ada kalanya media memberikan review yang kurang mengenakan, tidak perlu didebat atau dipermasalahkan, sekarang bagaimana caranya kita bertahan dan berbesar hati menerimanya, ini dia pendapat dari kakak kita yang telah malang melintang sekian lama di dunia musik ‘hingar-bingar’, Arian13, vocalis dari band Seringai, pada suatu malam dia menuliskan di linimasanya beberapa hal yang dirangkumnya dalam sebuah bahasan “ How to Survive a Bad Review”.

Secara menarik dia memaparkan kalau review itu sudah pasti bersifat subyektif, berarti pendapat dari orang yang me-review, bukan mutlak pendapatnya benar. Media yang akan mendukung musisi dalam berkarya tidak hanya media cetak dan elektronik saja, namun media sosial pun patut diperhitungkan, kalau karya kita mendapat bad review janganlah berkecil hati, its still publicity, daripada kita tidak mendapat penilaian sama sekali dan itu bisa menjadi kritik membangun. Mungkin awalnya akan merasa kecewa dan kecil hati, tapi tidak perlu berlarut-larut, karena ini bukan akhir segalanya.

Kebanyakan musisi yang mendapat bad review akan bereaksi defensif, agak sakit hati dikecilkan dan berpikir “ tahu apa sih si X tentang musik gue?’ Tapi reaksi defensif itu seakan menggambarkan kalau karya kita belum siap di apresiasi dan dinilai, disinilah mental kita dipertanyakan, sudah siapkah dipromosikan atau berhenti saja dipromosikan karena belum siap mental untuk dinilai. Karena sedikitnya dalam sebuah bad review ada sebuah titik kejujuran, pengecualian untuk review yang menyerang fisik musisi tanpa peduli musiknya. Selain dari musiknya, dalam bad review biasanya akan mengkritik keseluruhan unsur, cover/artwork, packaging, karena itu satu kesatuan. Cobalah untuk secara obyektif menganalisa bad review ini, justru ini akan membuat kita berimprovisasi karya di masa depan. Dan ketika kita menerima bad review, janganlah ditulis di blog ataupun di jejaring sosial lainnya, its uncool. Kumpulkan saja reviewnya kemudian di evaluasi kembali. Bila kita bereaksi berlebihan dan tidak menerima #badreview tersebut, bisa menjadi bulan-bulanan media, konyol dan tidak penting. Itu akan berpengaruh pada penjualan album. Bila reaksi dari #badreview adalah menerima dan tetap cool, itu justru akan menimbulkan simpati dn kesan yang baik. Sebaliknya bila menanggapinya dengan emosional, media akan memberikan cap yang selalu diingat malah akan menyebar ke publik, “ oh itu band yang dulu marah-marah gara-gara bad review?” Sebenarnya bad review itu adalah opini bukanlah fakta, bila merasa tidak sesuai tidak perlu terlalu diindahkan, lurus saja dan buktikan dengan karya yang lebih baik.

Tapi ada juga band yang bersikeras bilang, tidak terpengaruh dengan bad review namun terus mengungkitnya, malah terlihat seperti menyimpan dendam, itu juga uncool. Apalagi bersikap brutal dan balik menyerang, itu sama dengan mematikan karier, belum tentu karya selanjutnya akan ada yang me-review dan mempromosikan. Semisal band kita dibandingkan dengan band lainnya dan kurang tepat perbandingannya, jangan diambil hati, maksudnya adalah feel dari musiknya. Jangan langsung nge-judge si reviewer berwawasan dangkal dan merasa paling ciamik, ajak saja berdiskusi secara sopan, cari kesempatan untuk membahasnya bersama. Kalau mendapat bad review di sosial media jawab saja sederhana dan rendah hati, “terimakasih sudah mendengarkan album kami.” Kalaupun ingin merespon bad review secara verbal di media, ada baiknya berkonsultasi dahulu dengan anggota band lainnya dan mengutus seseorang untuk merespon review itu sebelum dirilis. Karena merespon review dengan vulgar bukanlah pilihan, tidak dianjurkan dan akan terkesan norak.

Karya yang keren adalah karya yang siap diinterpretasi dari berbagai sudut pandang, kalau cuma lo yang bisa nikmatin ya sama aja kayak masturbasi.

Di Antara Payung Teduh

Awal mengenal Payung Teduh bukan dari album Dunia Batas, namun dari sebuah video klip apik bernuansa pasar di pagi hari, berjudul “Tidurlah”.

Penasaran dengan aksi panggungnya saya mencari beberapa video penampilan mereka di Youtube. Hati kecil bilang, mereka seperti sekumpulan musisi yang memusikalisasi puisi, lirik sahaja dengan balutan musik improvisasi sana sini. Usut punya usut ternyata mereka adalah sekumpulan anak teater Pagupon UI (Universitas Indonesia) yang pastinya tidak asing dengan berbagai karya sastra ataupun literatur. Terbukti dari pemilihan diksi indah pada lirik-liriknya Payung Teduh.

Didengarkan berkali-kali, ada beberapa perbedaan signifikan dengan album EP-nya yang terdiri dari 4 lagu, Angin Pujaan Hujan, Cerita Tentang Gunung dan Laut, Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan dan Tidurlah. Dari sisi musikalitas tidak berubah warna, Payung Teduh memiliki hal yang tidak dimiliki SORE, begitupun sebaliknya, walaupun ada nyawa Ramondo Gascaro yang cukup kental di beberapa lagu. Konon katanya lagu Menuju Senja merupakan jawaban dari lagu Setengah Lima-nya Sore. Dari sisi kualitas rekaman, album Dunia Batas lebih tertata dan matang dibanding EP mereka.

Bila ditilik satu persatu, lagu-lagu dalam Dunia Batas masuk sebagai musik awan, ramuan dari banyak komposisi, bermain imaji namun ringan menyenangkan.

Lagu pertama pada album Dunia Batas ini dibuka oleh duet petikan gitar dan contra bass. Tidak lama kemudian Is dengan merdunya menyanyikan lagu Berdua saja:

 

Ada yang tak sempat gambarkan oleh kata ketika kita berdua

Hanya aku yang bisa bertanya mungkinkah kau tahu jawabnya

Malam jadi saksinya, kita berdua di antara kata yang tak terucap  

Berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban

 

Bagian pertama di lagu ini disisipi trumpet dan biola bernuansa sendu. Harmonisasi antar instumen dengan sukses mengantar kita menuju satu imaji, kembali pada suasana Jakarta tempo dulu.

Berlanjut pada lagu Menuju Senja yang terasa sangat SORE sekali. Suara falsetto Is terasa sedap, memberikan nyawa pada lagu. Ada gigitan aransemen yang menurut saya berbeda dengan SORE walaupun diracik oleh tangan yang sama.

Tiap mendengar lagu Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan, rasanya saya menjadi perempuan yang sedang cantik-cantiknya. Dipeluk oleh kata-kata lugas yang dikemas tanpa ada maksud merayu. Ada hal yang membuat lagu ini tidak bosan didengarkan berulangkali, melodi-melodi sebelum masuk ke reffrain kedua yang mengingatkan saya pada melodi lagu-lagu hits tahun 90-an. Dan yang teristimewa adalah nada biola dan irama piano saling bersahutan melengkapi.

Rahasia adalah lagu yang paling saya suka liriknya, entahlah suka lirik atau orang pembuat lirik ini. Karena lirik buatan Catur Ari Wibowo bagus sekali, dari segi penyampaian ataupun pemilihan kata yang bisa semenarik ini tanpa dibubuhi majas berlebih. Sisi musikalitas yang apik terdengar dari instrumen berlapis, piano dan organ membuat lagu ini terdengar renyah namun mewah.

Ahai, lagu kelima cocok sekali didengarkan sambil menikmati teh atau mengobrol riang. Lagu riang yang sebenarnya bermaksud kecewa atas sebuah penantian. Maaf kata, guitaleles yang ada di lagu beransemen unik ini mengacaukan misi lagu sedih, lebih seperti irama Stambul chacha. Ataukah Payung Teduh ingin kita bercampur-campur rasa saat mendengar lagu Angin Pujaan Hujan?

Di Ujung Malam merupakan lagu yang panjang bagi saya. Seperti dilempar ke sebuah tempat yang jauh sekali dan merasa benar-benar rindu. Seakan terlibat perasaan dengan lagu ini. Suara accordionmendayu yang dimainkan oleh Riza Arshad layak dijadikan alasan untuk memutar kembali lagu ini saat merasa sepi.

Ya sepertinya Payung Teduh kembali bercerita tentang sebuah penantian. Seorang musisi memang harus selalu Resah untuk terus berkarya dan musik yang indah biasanya lahir dari sebuah keresahan. Guitaleles yang dimainkan lamat-lamat menjadi kekuatan tersendiri di lagu ini.

Berakhir di lagu Biarkan, lagi-lagi guitaleles menjadi tokoh utama. Nuansa keroncong Telomoyo hadir memikat bersanding dengan flute dan suara sayup-sayup Mian Meuthia. Lagu dengan aransemen yang paling saya suka di album ini.

 

Saya tidak puas dengan album Dunia Batas. Ya, karena saya tidak mau Payung Teduh berhenti di album ini. Saya cukup penasaran dengan karya mereka selanjutnya.

 

Salam rindu dan penantian dari fans barumu

@badutromantis

 

 

 

Sumber video: Youtube.com by Waterpig

Sumber foto  : @itsFrankfurt