Images

Musik Untuk Perubahan

Musik untuk perubahan apakah itu klise?

Saat mayoritas anak muda mulai skeptis dengan politik apalagi yang mereka bisa percaya untuk mengubah dunianya? Sebagian besar anak muda itu berkata “musik”. Mereka masih percaya dengan kekuatan musik. Ini momen yang tepat untuk musisi menyebarkan energi positif bagi para anak muda yang percaya musik. Dengan kekuatan musik kita bisa mengangkat isu-isu sosial yang bergelimpangan tak berdaya saling tumpang tindih. Belum habis riwayat isu yang satu, sudah cepat bergilir tergantikan oleh isu lainnya.

Bagaimana cara untuk menolak lupa?
Salah satunya dengan bantuan para musisi yang peduli. Mengemas liriknya dengan visi, mentautkan isu sosial bukan dengan gaya pragmatis dan melodrama. Isu yang ada sebenarnya bila digali dan ditilik bisa ditemukan akar permasalahannya. Dari situlah setiap musisi dengan cara yang beragam sesuai karakter masing-masing bisa urun rempug meraciknya menjadi lirik. Tentunya dengan kata-kata yang cukup sederhana dan bisa dimengerti.

Saat lagu-lagu tersebut diperdengarkan, di situlah musisi bisa bercerita tentang latar belakang dan ide krusial apa yang mendasari pembuatan lagu. Perlahan namun pasti kita akan hidup sebagai generasi yang menolak lupa. Generasi yang peduli akan sekelilingnya. Bukan sekedar ikuti isu, larut dalam arusnya namun tak berbuat apa-apa.

Musisi bisa berperan di sini, menjadi dinamo bagi perubahan. Kepedulian yang lahir dengan tulus melalui musik. Untuk semua musisi Indonesia, kalian adalah agen perubahan, kita sudah muak akan politik tapi kita masih cinta musik.

 

Sumber foto: http://www.heraldsun.com.au/

Linimasa Musik

Jauh sebelum Masehi, tiap daerah memiliki musiknya masing-masing. Peradaban Mesir, Cina, Yunani dan lainnya menciptakan bebunyian dari mulut (sebagai ritmik) yang kemudian berkembang menjadi lagu rakyat. (folksong)

The Middle Ages

Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5, Eropa Barat memasuki waktu yang dikenal sebagai “The Dark Ages” – suatu periode ketika menyerang gerombolan Vandal, Hun, dan Visigoth menguasai Eropa. Tahun-tahun ini ditandai oleh perang konstan, tidak adanya Kaisar Romawi Suci, dan menghilangnya virtual kehidupan perkotaan. Selama sembilan abad  berikutnya, Gereja Kristen yang baru muncul mendominasi Eropa, menjalankan keadilan, menghasut “Kudus” Perang Salib terhadap Timur, mendirikan Perguruan Tinggi, dan umumnya mendikte musik, seni, dan sastra. Selama waktu ini Paus Gregorius I diyakini telah mengumpulkan dan mengkodifikasi musik yang dikenal sebagai Gregorian Chant, merupakan musik yang disetujui Gereja. Kemudian, Universitas Notre Dame di Paris menciptakan jenis musik baru yang disebut Organum. Musik sekuler dilakukan di seluruh Eropa oleh Trobador dan Trouvères Perancis. Dan selama “abad pertengahan” budaya Barat menampilkan nama besar pertama dalam musik, Guillaume de Machaut.

The Renaissance

Kira-kita dari tahun 1420 hingga 1600, Renaisans (yang secara harfiah berarti “kelahiran kembali”) adalah masa kebangkitan budaya yang besar dan berbunga seni, sastra, dan ilmu ke seluruh Eropa. Dengan munculnya humanisme, musik suci mulai untuk pertama kalinya membebaskan diri dari batas-batas Gereja, dan sekolah komposer dilatih di Belanda menguasai seni polifoni dalam pengaturan musik suci. Salah satu master awal dari gaya Flemish adalah Josquin des Prez. Tradisi-tradisi polifonik mencapai titik puncaknya dalam karya-karya tak tertandingi milik Giovanni da Palestrina.

Tentu saja, musik sekuler berkembang selama periode ini, dan musik instrumental serta tari begitu banyak namun tidak tertuliskan. Hal yangterdokumentasikan hanya berbagai partitur saja. The Renaissance akhir di Inggris berkembang dari sajak pendek tentang cinta, yang paling dikenal disusun oleh master: John Dowland, William Byrd, Thomas Morley dan lain-lain.

The Baroque Age

Dinamai dari gaya arsitektur yang populer di era itu. Periode Baroque (1600-1750). Terlihat  komposer mulai memberontak terhadap gaya yang lazim selama High Renaissance. Ini adalah era ketika monarki Eropa mulai bersaing satu sama lain dalam kebanggaan, kemegahan dan prosesi Banyak raja mempekerjakan komposer di pengadilan mereka, di mana mereka tidak lebih dari hamba yang dipekerjakan dalam sebuah pagelaran tertentu.

Komposer terbesar periode ini adalah Johann Sebastian Bach, seakan seperti seorang hamba. Namun ia merupakan komposer terbaik waktu itu karena mampu menciptakan lahan musik baru, dan berhasil menciptakan gaya yang sama sekali baru dalam musik.

Selama awal abad ketujuh belas genre opera pertama kali diciptakan oleh sekelompok komposer di Florence, Italia, dan opera karya paling awal disusun oleh Claudio Monteverdi.

The Concerto Instrumental menjadi pokok dari era Baroque, dan ditemukanlah eksponen kuat dalam karya-karya komposer Antonio Vivaldi Venetian. Musik piano mencapai jangkauan baru, yaitu karya-karya master seperti milik Domenico Scarlatti.

Tarian diformalkan ke dalam banyak rangkaian instrumental dan disusun oleh hampir semua komponis di tiap era. Musik vokal dan paduan suara masih menjadi yang tertinggi di era ini, dan memuncak dalam opera dan oratorio di Jerman oleh komposer George Frideric Handel.

Era Klasik
Sekitar 1750-1820, seniman, arsitek, dan musisi menjauh dari gaya Baroque dan Rococo, sebagai gantinya menganut gaya elegan ala Klasik Yunani. Para aristokrat  kala itu menggantikan raja dan gereja sebagai patron seni, dan menuntut musik impersonal, namun merdu dan elegan. Tarian seperti minuet dan gavotte yang diberikan dalam bentuk serenada menghibur.
Pada saat ini ibukota Austria, Wina menjadi pusat musik Eropa, dan lahirlah karya-karya periode itu yang sering disebut sebagai gaya Wina. Komponis datang dari seluruh Eropa untuk belajar di  Wina, dan secara bertahap mereka mengembangkan dan menformalkan bentuk standar musik yang mendominasi budaya musik Eropa untuk beberapa dekade mendatang.
Sebuah reformasi mendobrak Baroque opera dilakukan oleh Christoph von Gluck. Johann Stamitz memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan orkestra dan mengembangkan gagasan dari orkestra simfoni.
Periode Klasik mencapai puncaknya dengan simfoni ahli sonata, dan string kuartet oleh tiga komponis besar dari sekolah Wina: Franz Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven. Selama periode yang sama, berkembang pula awalnya musik Romantisisme dapat ditemukan dalam musik karya komposer Franz Schubert.

 

Era Romantisisme
 

 

 Era ini banyak berkembang sosio-politik, cara-cara baru kehidupan dan pemikiran, sehingga komponis periode ini bisa dikatakan menemukan musik baru, menambahkan kedalaman emosional  dengan bentuk klasik yang berlaku. Sepanjang sisa abad kesembilan belas (tahun 1820-1900), seniman dari semua jenis menjadi niat dalam mengekspresikan diri mereka dan emosi.
“Romantisisme” namanya berasal dari romances dari abad pertengahan – puisi-puisi panjang bercerita tentang pahlawan dan ksatria, dari jauh tanah dan tempat-tempat jauh, dan sering cinta tak terjangkau. Para seniman romantis adalah yang pertama dalam sejarah untuk diberikan kepada diri mereka nama dengan yang mereka diidentifikasi.
Para komposer Romantisisme lahir pada tahun-tahun awal abad kesembilan belas. Musisi yang masuk era ini dan berasal dari Jerman, Felix Mendelssohn dan Robert Schumann, penyair Polandia dari pianis Frédéric Chopin, jenius Perancis Hector Berlioz, dan pemain sandiwara yang juga pianis besar dalam sejarah, komposer Hungaria, Franz Liszt.
Selama awal abad kesembilan belas, komposer opera seperti Carl Maria von Weber beralih ke folk Jerman untuk cerita opera mereka, sementara Italia menampilkan literatur dari waktu ke waktu dan menciptakan apa yang dikenal sebagai Bel Canto opera (nyanyian indah). Kemudian di abad ini, bidang opera Italia didominasi oleh Giuseppe Verdi, sementara Jerman opera hampir dimonopoli oleh Richard Wagner.
Abad 20-an
 
Pada pergantian abad, beberapa dekade mendatang, seniman dari semua negara mencari mode menarik yang berbeda ekspresi. Komposer seperti Arnold Schoenberg mengeksplorasi harmoni yang tidak biasa dan tidak kuno dengan skema tonal. Komposer Perancis, Claude Debussy terpesona oleh musik Timur dan skala seluruh nada, lalu menciptakan gaya musik bernama  Impresionisme. Komposer Hungaria Béla Bartók  dalam tradisi nasionalis yang masih kuat, melebur musik petani Hungaria dengan bentuk abad kedua puluh. Avant-garde komposer seperti Edgard Varese menjelajahi manipulasi ritme daripada skema melodi/harmonik biasa. Gustav Mahler mencoba memodifikasi harmoni begitu pun Dmitri Shostakovich. Sementara Igor Stravinsky memberikan kendali penuh kepada manipulasi  irama kaleidoskopik dan warna instrumen di sepanjang karirnya.
Banyak komposer sepanjang abad kedua puluh bereksperimen dengan cara baru dengan instrumen tradisional (seperti yang dilakukan oleh komposer Amerika John Cage), banyak pula komposer abad kedua puluh besar dengan musik ala opera, seperti komposer Giacomo Puccini, lalu pianis Rusia Sergei Rachmaninoff, tetap setia pada bentuk tradisional sejarah musik. Selain gaya baru dan eklektik tren musik, abad kedua puluh menawarkan berbagai komposer yang harmonik dan melodi dengan gaya  yang masih dapat dengan mudah dihargai dan dinikmati.
Modern Music
 
 
Sejak tahun 1900 hingga kini Modern Music terus berkembang. Tempo hari Guardian membuat sebuah linimasa mengenai musik yang ciamik untuk disimak. Pilih genrenya lalu mainkan infografik interaktif ini. Seru sekali, ada banyak konten yang bisa dibaca berkaitan dengan cerita seru dibalik genre tersebut.

Musik Bagi Anak

Tulisan ini lahir dari hasil obrolan #BincangMinggu bersama kak Adoy, gitaris Bonita and the hus BAND mengenai Musik Bagi Anak.

Obrolan yang seru dan membuka wawasan kita tentang Musik Bagi Anak. Kak Adoy menekankan dulu di awal kalau orangtua haruslah mengerti lebih dahulu apa itu musik bagi anak. Musik bagi anak adalah musik yang dimainkan oleh anak dan/atau musik yang ditampilkan untuk kebutuhan anak.

 

Bermusik sendiri bentuknya sangatlah beragam: membuat, menampilkan, menyimak, mendokumentasikan, dan lainnya. Dengan banyaknya ragam aktivitas musik anak, kita sadar satu hal, musik/lagu untuk anak (diTV) bukanlah satu-satunya dalam dunia musik anak. Bisa jadi kita terlalu membatasi pengetahuan kita tentang musik/lagu anak sebatas rekaman audio dalam bentuk cd/ siaran tv/ radio saja. Padahal anak-anak secara natural BUTUH mengeksplorasi dunia sekitarnya. Pengalaman aktual bermusik sangat mereka senangi. Bermain-main dengan bunyi, bernyanyi untuk permainan, bernyanyi bersama teman-teman & orangtua adalah beberapa pengalaman aktual musik anak.

Anak-anak bisa dikatakan ‘addict’ pada TV, tapi jika ada pilihan aktivitas aktual bermusik apalagi bersama orangtua, maka mereka akan memilih yang aktual. Membiasakan berkegiatan musik aktual dengan anak dalam keluarga akan membantu anak & orangtua mendapat pengalaman yang kaya akan musik: bunyi-bunyi aktual relatif bisa disesuaikan dan adanya kedekatan rasa.

Orangtua akan terbantu dalam bentuk kontrol yang lebih kuat terhadap konten yang ingin disampaikan dan memperoleh waktu bersama anak. Namun pertanyaan dan keraguannya adalah sempat atau tidak dan mampu atau tidak orang tua berkegiatan musik dengan anak?

Jawabannya adalah disempatkan dan jangan menjadi terintimidasi dengan kegiatan musikal itu mesti orangtua yang jago bermusik dan mengerti musik dalam takaran budaya populer. Tidak seperti itu. Percayalah anak-anak pasti senang dengan berkegiatan bersama orangtuanya. THEY REALLY DO!

Buatlah suasana anak-anak seperti bermain karena itu adalah cara utama mereka belajar. Perkaya juga dengan bahasa. Musik dan bahasa punya banyak sekali kesamaan. Jika orangtua melakukan pendekatan musik dan bahasa secara ‘saling’. Maka anak-anak akan lebih mudah berkembang di kedua bidang tersebut.

Lalu perbanyak waktu bermusik bersama anak-anak. Banyak media yang bisa digunakan (selain televisi). Beberapa media antara lain: lagu folk/anak-anak warisan orangtua kita (lisan), permainan-permainan yang menggunakan lagu dan alat-alat musik sederhana. Pendekatan secara komunitas pun dapat dicoba, seperti kata pepatah; “”It takes a village to raise a child”. Ajaklah teman yang bisa bermain musik (pasti punya) ke rumah, buatlah konser keluarga yang sederhana saja.

Musik di TV dan internet bisa membantu kegiatan bermusik anak, tapi yang jauh lebih kuat pengaruhnya adalah pengalaman aktual dan role model dari orangtua. Lagu untuk anak terlalu mulia untuk terlibat dalam scene industri musik sekarang. Lagu anak terlalu mulia untuk terlibat lebih dalam ke scene industri musik karena lagu anak lebih butuh dialami secara aktual oleh anak dan tidak membutuhkan banyak perantara (media). Lagu warisan orang tua dan para guru tidak akan habis untuk anak-anak. Kanal media sosial sekaran ini bisa sangat membantu orangtua untuk mencari lagu anak yang tepat.

Cukup banyak pemusik, pemerhati musik, pemerhati pendidikan anak yang berbagi infonya di media sosial termasuk membuat website-website yang menarik dikunjungi oleh orangtua; pedulimusikanak.com pelanginada.com lagu2anak.blogspot.com //pbadi.wordpress.com, Marinyanyi.comdiatasratarata.com dan masih banyak lagi.

Mari  sempatkan memberi ritual musik pada anak dan percayalah perubahan besar akan datang dari hal kecil yang menyenangkan.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber foto: musikgank.com

Spasiba, Capt!

Apa yang terpikir olehmu saat melihat aksi Zeke Khaseli?

zeke1

 

Bukan sekali saya menonton aksi gila Zeke Khaseli dan merasakan sensasi serupa memakan buah naga, segar dan menyehatkan. Maka datanglah saya ke Fell In Love With The Wrong Planet, 2nd Album Concert & Mini ExhibitionZeke Khaseli. Saya dengan antusias pergi ke Goethe Institute dan mendapati orang-orang berekspresi sama… tidak sabar menunggu kejutan yang diberikan Zeke Khaseli pada kita. Ruangan Goethe cukup mumpuni untuk sekitar 150 orang, namun banyak yang tidak mendapatkan kursi. Pukul 8.30, sesi pertama diawali oleh David Tarigan yang membacakan peraturan konser dengan peniruan bahasa tubuh oleh wanita berkepala kuda. Permulaan bagus karena membuat Goethe lumayan riuh dengan aksi mereka berdua yang kocak. Pertunjukkan terbagi menjadi dua sesi. Di sesi pertama Zeke membawakan beberapa lagu dari album pertamanya, Salacca Zalacca. Dan konser pertama berlangsung meriah dengan gaya ekletik khas Zeke Khaseli, disertai penampilan musisi-musisi yang berdandan seru, Acum ‘Bangkutaman’ (sebagai Kimcil Witch), Angga ‘indobeatbox’ (berkostum pertambangan),

Image

Anggun Priambodo (Manusia berbaling-baling kipas angin)

 

Akbar ‘Efek Rumah Kaca’ (ultraman), Arie Gusti ‘LAIN’, Bin Harlan (berperan ganda: pijamas man dan bersorban berdandan ala FPI), Cholil Mahmud ‘Efek Rumah Kaca’(buah strawberry), Elang ‘Polyester Embassy’ (pria new wave gaul), Emil ‘Naif’ (buah nanas), Evan Storn (the shit head), DJ Heru ‘Quirk It’, Leonardo Ringo, Purusha Irma ‘L’Alphalpha‘ (wanita biola berambut biru), Vina ‘Fever to Tell‘ (wanita riang dari negeri dongeng), Yacko, Jon ‘White Shoes and The Couple Company’, Omo ‘The kucruts’, Bram “The Experience Brothers” dan Zico.

 

zeke5zeke2

 

Sebelum berlanjut ke sesi kedua. Penonton diberi jeda 30 menit untuk beristirahat dan menikmati mini exhibition, yang…. hmmmm dipersiapkan dengan tidak main-main. Entahlah, saya bisa begitu betah memandangi karya-karya pameran satu persatu dan dibawa dalam dunia Zeke Khaseli yang bercampur baur tanpa batas ruang dan waktu. Beberapa karya dipamerkan di lorong Goethe Institute. “Jerapah bertuliskan gajah” adalah favorit saya. zeke3

 Sesi kedua, semakin banyak penonton yang tidak kebagian tempat duduk. Penonton yang membeli presale didahulukan dan diberi tempat istimewa karena mereka akan terlibat langsung dalam pembuatan film dokumenter berjudul “Panspermia” yang disutradarai Amir Pohan (pemain drum Zeke and The Popo). Terus terang bagian paling keren selain dari munculnya tokoh-tokoh khayalan yang fantastis adalah bunyi theremin, dimainkan langsung oleh pembuatnya, Evan Storn. Sesi kedua ini memadukan unsur alam yang kental sekali terlihat dari dekorasi dan lirik-lirik lagu dari album kedua Zeke. Saya seolah diculik pergi ke sebuah tempat antah berantah dan dilenyapkan semua ingatannya. Konser yang intim dengan selipan candaan Zeke. Menyenangkan sekali.

 Kejutan belum berakhir sampai di sini. Zeke memanggil Leonardo, Amir Pohan, Iman Fattah (namun Iman tak kunjung datang) dan Yudi , yeay, reuni Zeke and The Popo, membawakan dua lagu mereka, Profesor Komodo dan Mighty Love. Bernostalgia ke tahun 2008, dimana Zeke and The Popopernah membuat konser juga di Goethe, bertajuk “Space In The Headlines“.     Zeke di konser ini menyerukan pemikiran-pemikiran keren tentang pentingnya sebuah komunitas. Spirit yang diusungnya menghidupkan suasana hingga akhir acara. Zeke memanggil satu persatu pendukung acara di lagu Pig Paranoia. Balon-balon berjatuhan tanda konser berakhir. Konser yang meninggalkan kesan dalam bagi saya, rasa puas dan semangat untuk terus menggiatkan komunitas. Percaya akan kekuatan musik yang bisa menjadi bahasa segala rasa. Terimakasih Zeke Khaseli. Spasiba, Capt!

Torehan kecil: Dua lagu yang paling saya suka di album ini: Jules et Jim dan Rolling Like a Stupid Stone. Teman yang tidak sempat hadir bisa membeli albumnya beserta tote bag ber-artwork ciamik, dengan 8 pilihan karya. Liriklah juga zekekhaseli.com untuk dengar betapa kecenya album Fell In Love With The Wrong Planet.