Sinopsis Jendela Raksasa

 

Selamat malam. Ini adalah drama musikal anak dan remaja bertajuk “Raksasa” di TIM JKT 22-23 Desember.

Penggarapan musik dan artistiknya yang sangat serius ini dibuat oleh Jendela Ide. Menyenangkan bisa membantu mereka untuk menyebarkan informasi ini.

Berikut sinopsis ceritanya:

Pada suatu malam di puncak gunung, ada sekelompok anak dan gurunya yang sedang berkemah.  Sebelum mereka tidur, sang guru bercerita tentang seorang gembala yang berbohong kepada teman-temannya bahwa ada raksasa telah memakan semua domba-dombanya. Tapi pada suatu hari, di saat raksasa benar-benar datang dan mengambil domba-dombanya, teman-temannya sudah tidak percaya lagi pada si Gembala sehingga tidak ada yang menolongnya.
Tanpa disangka, ketika anak-anak tersebut tertidur si gembala datang kedalam mimpi mereka.

Dengan tulus ia meminta pertolongan untuk menemukan domba-dombanya. Anak-anak yang semula ragu akhirnya mau membantu si Gembala setelah dia berjanji untuk tidak berbohong lagi.

Mereka pun memulai perjalanan dengan melewati hutan belantara untuk mencari Akar Putih dari Pohon Harapan, karena hanya Akar Putih lah satu-satunya senjata yang bisa melawan Raksasa dan makhluk-makhluk jahat lain yang mungkin akan mereka temui di perjalanan.

Sepanjang perjalanan, anak-anak tersebut belajar dan bertemu dengan banyak makhluk ajaib, salah satunya adalah Naga Air yang membantu mereka menemukan Akar Putih. Hingga akhirnya mereka tahu ada hal yang menyebabkan raksasa berlaku kejam, dan bersama-sama mereka berusaha untuk memecahkan masalah tersebut.

 

Advertisements

Dedikasi Ibu Marintan Sirait pada Jendela Raksasa

Dosen favorit saya semasa kuliah ditakdirkan bertemu lagi. Ia dan Jendela Ide Bandung memang sangat berdedikasi untuk membangun skena performing art dan pertunjukan seni sejak dulu.

Kini ia sedang menjadi sutradara dan tim artistik drama musikal anak/remaja bertajuk Jendela Raksasa. Berbagi cerita bagaimana sebuah ekosistem pertunjukan hendaknya dibangun dari hulu ke hilir dengan mengoptimalkan kreativitas yang tidak hanya sebagai konsep yang mendewakan seni semata. Mempopulerkan seni lewat anak/remaja menjadi aset penting supaya mereka bisa selalu waras di tengah pergulatan dunia yang kian panas.

Ibu Marintan Sirait dengan ketenangan sungai tanpa riak, membuat saya belajar arti pengabdian pada masyarakat. Bagaimana seni mesti menyentuh segala sendi kehidupan. Dan anak/remaja adalah salah satu unsur penting yang disertakan.

Jendela Raksasa sebelum pementasannya melakukan workshop bunyi ke beberapa sekolah. Menggunakan metode seperti folley artist, mengumpul dan mencipta suara dengan keterlibatan anak sekolah untuk digunakan sebagai sound effect di drama musikal tersebut. Supercool yah. Orang-orang hebat seperti bu Marintan banyak sekali di Indonesia ini, bolehlah sesekali kita mengekspos orang-orang inspiratif macam beliau ketimbang memberikan panggung pada boneka-boneka politik penuh kepentingan..

Salam seni..

We The Fest 2016 Hari Kedua

We The Fest salah satu pergelaran musik yang ditunggu muda mudi arus pinggir berhasil membuat sebuah kolaborasi apik antara ekosistem kreatif, musik serta ekonomi. Di pergelaran yang ketiga ini ada sedikit perbedaan, pertama kalinya diselenggarakan selama 2 hari dan hujan deras mengguyur Jakarta tanpa henti. Namun kendala alam tidak menghentikan antusiasme pengunjung untuk basah-basahan menikmati sajian musik dari para idola.

Ornamen warna-warni, lampu di sana sini serta tenant yang berlomba-lomba menghias boothnya menjadikan wajah We The Fest menjadi festival musik yang ceria. Beberapa saat saya merasa sedang berada di sisi lain Disneyland. Belum lagi jarak panggung yang tidak terlalu dekat serta pilihan pengisi acara yang kualitasnya merata membuat pemandangan muda mudi berlarian di jeda pergantian musisi, tentunya dengan jas hujan lucu beraneka warna.

Senangnya bisa menyempatkan diri untuk menonton Temper Trap dan bertemu dengan salah satu record store bus dari Makassar.

wtf 1.jpg

Pengalaman pertama yang berkesan bagi saya dan Aria. Mungkin kami akan menjadi salah satu muda mudi arus pinggir yang menantikan dengan semangat siapa musisi yang akan datang tahun depan. Terimakasih Hangga.

Vblog WTF day 2;

Erik Truffaz, Bending The New Corners

 

erik truffaz

 

Menyukai musik jazz kadangkala bukan perkara mudah bagi sebagian orang, termasuk suami saya yang terbiasa mendengarkan musik hingar bingar, entah itu indie rock, indie pop atau metal. Saat ia bertanya, bagaimana cara memulai menyukai jazz. Saya menyarankan untuk memilih instrumen apa yang enak dinikmati. Ia pun langsung yakin memilih terompet. Entah atas dasar apa, dia pun bukan penyuka ska hahaha.

Dari situ mulailah kami mencari label jazz yang bisa menjadi tumpuan belajar menyukai jazz, terpilihlah Blue Note. Peniup terompet legendaris, Lou Donaldson menjadi piringan hitam pertama yang didengar olehnya. Ternyata dia sangat suka. Dari situ mulai mencari peniup terompet lainnya. Dari era kekinian kami menemukan Erik Truffaz.

Hobi travelling kami yang mengantarkan perjumpaan dengan Erik Truffaz, di sebuah record store kecil di pinggiran Tokyo. Sebagai penyuka jazz fussion, saya langsung jatuh cinta. Apalagi saat membeli piringan hitam ini, kami sedang aktif menjadi selector di acara jazz. Pas sekali dibawakan untuk saat santai.

Ia ternyata sangat produktif, sudah 20 album ia hasilkan. Mendengarkan seluruh lagu di album ini membuat kami ingin mengkoleksi album Erik yang lainnya. Sekarang saya sedang mencari album bertajuk The Dawn.

Penasaran seperti apa musiknya? Ini saya membuat vblog pendek tentang Erik Truffaz. Selamat menyimak.

 

 

Sumber foto: www.cdandlp.com dan www.rootsisland.com

Musik dan Pasar yang Bisa Diciptakan

Ini tentang sebuah diskusi yang sudah cukup lama saya datangi, sekitar bulan Maret silam, namun baru sempat ditulis di blog karena perlu menyatukan tweet-tweet yang ada di akun Koalisi Seni dengan tweet di Alinea TV. Konten dari diskusinya sangat penting untuk ekosistem musik di Indonesia.

Cholil membuka diskusi dengan topik “Musik dan Pasar yang Bisa Diciptakan”.

Ia berpendapat stigma tentang band yang menyuarakan isu sosial dan kerap bertolak dengan label besar sebenarnya kurang tepat. Karena, band seperti Slank dan Iwan Fals, yang punya sikap politis dalam musiknya, justru menjadi mainstream dalam musik Indonesia. Sekarang ERK sudah tidak punya hambatan seperti dulu ketika bicara “pasar bisa diciptakan”. Mungkin band-band yang baru menghadapi hambatan seperti ERK dulu: musik mainstream dan label.

Awalnya ERK juga tidak terlibat banyak. Soal hak cipta aja, ERK memilih creative commons karena tidak mau komersil. Banyak musisi yang belum terlalu peduli dengan revenue system, entah dalam bentuk direct-income sampai publishing. Tidak semua musisi berekspektasi benar-benar hidup untuk bermusik. Di luar bermusik, mereka mencari penghasilan dengan bekerja seperti biasa. Strategi untuk mendistribusikan musiknya & sampai ke publik seluas mungkin menjadi kebutuhan utama, belum tentang finansial. Tujuannya hanya untuk menarik massa.

Tentang era internet:

Coki:

Sekarang ada peluang yang ada dengan kemajuan internet. Label juga baru belajar. Ini perlu dikuasai musisi. Internet itu sangat membantu. Kelas menengah itu cukup relate dengan bandnya. Jadi setelah mendengar, mereka ikut meramaikan sendiri. Internet menciptakan pola baru: free sharing. Tapi justru,daya beli konser & merchandise meningkat. Inilah ‘konsumsi baru’.

Cholil:
Internet ngaruh ke perubahan perilaku pembeli musik. Internet kabar baik buat nyebar info tp kabar buruk buat distribusi. Internet itu semangat jamannya gratis. Ya diterima aja. Musisi harus banyak manggung. Mereka gak beli CD tp mau beli tiket. Penggemar musik masih bersedia mengeluarkan ratusan ribu tapi gak lagi beli CD. Konser ERK kmrn sold out dalam 2 hari.
Indie Label atau Major Label?

Cholil:

Sekarang orang bertanya apa untungnya masuk major label. Kalau gak untung ya masuk jalur indie aja lebih bebas. Perizinan itu menjadi momok musisi. Slank harus lanjutkan Judicial Review agar izin bukan di polisi tapi di Budpar. Dengan makin mudahnya musisi bikin konser, ekosistemnya jadi lebih baik buat pasar musik. Masyarakat sekarang sudah pintar pilih mana yang mau dia dengar dan gak. Pemerintah gak perlu bilang “jangan dengar lagu cengeng”. Biar masyarakat yg menentukan sendiri musik apa yg ingin mereka dengar. Pemerintah memfasilitasi infrastrukturnya.

Ada kebijakan baru dari Pemda Jakarta dalam mengakses gedung pertunjukan seperti Taman Ismail Marzuki & Gedung Kesenian Jkt. Harga sewa gedung pertunjukan lebih terjangkau. Band-band  mulai memanfaatkan fasilitas tsb; seperti WSTACC, Ari Reda, dan ERK. Hal ini menularkan semangat kpd musisi lain tentang referensi venue musik. Kebiasaaan menonton di gedung pertunjukan juga dibangun.

Di ERK, kami berstrategi dengan mencari rekanan kerja yang juga mendukung visi musik kami. Dari label, media, dll. ERK tidak merasakan perubahan konsumsi musik dari fisik ke digital. Kami masuk saat masa transisi itu & kebetulan bisa mencermatinya. Hal ini berbeda dgn band-band sebelumnya yang berada di pola konsumsi fisik: kaset dan CD. Mereka merasakan kerugian pasar itu.

Coki:

Ini zamannya musisi milih jalur yg sesuai dengan visinya. Sekarang bukan lagi tentang indie-major, tapi lebih kepada: saya punya visi, maka lebih baik berjejaring di akses yg mana?. Kalau mau masuk TV ya ke major label. Kalau yang suka manggung ya indie label. Era indie seksi dan major jahat itu udah selesai tahun 90-an. Musik bagus ada di mana-mana. Indie adalah spirit. Label dari dulu pun memproduksi berbagai varian band ‘bagus-jelek’, jadi bukan gatekeeper tunggal. Label melihat kepentingan profit, bukan berfungsi sebagai taste maker. Fungsi tersebut lebih dilakukan oleh radio.

Ada pertanyaan dari penggerak musik di Palu mengenai musisi lokal yang selalu ingin mendengar/bercermin pada musisi di luar daerahnya (musisi ibukota)

Ini dihadapi semua musisi. Di Jakarta sama band-band luar. Kita harus punya jalan keluar. Mungkin karena gak ada ikatan emosional. Mulai dr sesama musisi nonton konser temannya. Diperluas, terbangun emosional sehingga stempel band ibukota itu bagus surut.

Coki menanggapi bahwa kini, situasinya adalah hambatan berada di distribusi. Musik yang bagus di Indonesia tidak masuk ke media TV. Musik Indonesia sudah baik tapi gak ada distribusi yang baik. Harusnya TV publik itu memberi ruang buat musisi Indonesia. Masing-masing sibuk sendiri. Orang TV hanya urus TV. Musisi hanya urus musik. Harusnya sekarang kolaborasi. Kelebihan lo di lokal itu lo lebih tahu apa yg masyarakat lokal  mau. Itu yg perlu dibangun: kelokalan dan jaga kualitas. Silam Pukau dan Semak Belukar pun dikenal karena unsur kelokalannya.

Setiap pelaku dalam ekosistem musik kini bermain secara sektoral, belum terpusat di dalam domain distribusi. Saya datang ke konser musik besar-kecil,yg saya lihat audiensnya masih sama. Ini bukti bhw pencapaian audiens musik stagnan. Musisi stdknya harus mempunyai pengetahuan tentang framework management dalam bisnis musik. Fungsinya untuk strategi penjualan. Musisi tetap harus punya edukasi dasar tentang distribusi dan konsumsi musik, sehingga mereka punya posisi tawar lebih baik. Dalam sebuah studi di Inggris, menonton konser bisa didefinisikan sbg bentuk konsumsi. Jika kita melihat peta revenue ini, investasi ke arah konser berikut dengan gedung pertunjukannya dapat dilakukan.

Apakah musik perlu sebuah kebijakan?

Sangat baik kalau musisi dan semua stakeholder di dunia musik ikut mendorong perubahan kebijakan. Musik itu bisa untuk soft power dan ekonomi. Pemerintah pahami dulu potensinya itu saja dengan baik.

 

Percakapan di dalam diskusi ini bisa disaksikan di kanal #KesenianIndonesia kerjasama Koalisi Seni Indonesia dan AlineaTV di alineatv.com/kanal/kesenianindonesia

 

Edelweis On Papandayan

When I first knew Tora and Wisha will go to the mountain, I was tempted to join and invite Aria participate. Although I do know mountain climbing is not something fun instantly. Need struggles and processes. My experience several times to walk away, I always cry in the middle of the road. Waerebo I was not able to cry because I was busy chatting with a local guide. But in Gili Lawa, Badui Dalam and forests in Aru, Aria had to persuade me to wait with the lure of destinations soon visible. Yes, I walked a couple of times with a duration of time long enough.in the dark. 8 hours approximately. So when I wanted to go to Papandayan feel brave enough to take the risk of a hike for 3 hours.

Funnily enough to H minus one ahead of hiking time, we have not had time to pack and get ready. Happens in the day it happened complicated. We intend to bring portable turntable to the top of the mountain, but the battery could not be bought. Was willing to make vblog about traveling while you hear music in the wild, and all of plans are failed

IMG_0075.JPG

Papandayan known as the mountain for beginner climbers, the track is not too hard, the forest is still nice to enjoy and have a wide field Edelweiss.

We started journey around 2 am and arrived at 5 am on Garut. After going to the market and rest a while, at 9 am we started to go hiking. On the market I had stoned who was thrown by a madman that looks like a zombie. Absurd.

IMG_9866.JPG

Approximately 3.5-hour hike up and down and past the limestone plateau that smelled of sulfur, finally arrived at Pondok Selada, our camping spot.

Because pitched tents require special skills, I could only watch while eating snack and warm mug beans in the kiosk. Yes, do not worry hungry stomach, many kiosk up there. Pssst.. for you are not confident of a hike but still want to go, there are motorcycle taxis that can deliver up to the tent area.HAHA!

IMG_9939.JPG

Alex (@amrazing), is one of the people who made us want to go to Papandayan, see the edelweiss and shooting stars. At night, the preparation is ready to take a star. We are looking for the right moment while waiting for dinner. Suddenly, i heard the sound of crutches crutches krusuk..gedubruuuk .. .. tent we entered into a boar and he could not get out of the tent. Confused and then tore the inside of the tent with fangs, once the tent was collapsed. Event 1 minute was enough to amaze me, boars destroying tents in a short time. I still did not believe that he knew that he was looking for was wheat biscuits that are already open. Whether he likes or a very sharp nose that can smell a biscuit from a distance. Between upset, wonder and laughter, we started cleaning up to move the tent. Once completed through all the drama boar, stars not seen covered with clouds. Slightly disappointed but still fortunately it did not rain.

We decided to go to bed early in to see the sunrise, again when you wake up and go to the crater, the sun was not visible due to heavy clouds. Im not disappointment because traveling is not allowed expects, I cheerfully wanted to go out to find edelweiss . Saw the photos on the travel blog and tempted to run and greet the beautiful flowers.

That plan went out to the field edelweis not very smoothly, was a stray one hour past the endless steep hill. Finally we decided to split up the group and find their own way and be successful. Previously passed road is hard enough and quite difficult to pass, fortunately, we can find another way.

IMG_0034 (1).JPG

This the edelweiss field that I loved. i wanted a longer stay here but I still nervous if meet again boar. HAHA.

I make a collection of songs that is good to hear while enjoying the edelweiss meadow, enjoy the mixtape.

IMG_0026.JPG

 

Gairah Rilisan Fisik Kini

Beberapa saat yang lalu sebuah toko musik besar mengumumkan penutupan beberapa cabangnya, linimasa di media sosial sontak bereaksi sedih dan prihatin. Namun di saat yang sama toko musik kecil kian menjamur dan bertambah banyak. Coba cari kata kunci bertanda pagar piringan hitam, CD lokal, jajan rock, kaset di instagram; niscaya akan ditemukan berbagai toko musik kecil di berbagai belahan daerah berjualan rilisan fisik sampai dengan alat pemutar rilisannya. Bagai berjalan menuju kenangan masa lalu, mereka menjajakan nostalgia berikut cerita-cerita yang selalu menarik untuk disimak.
Uniknya mereka bisa bertahan di tengah isu rilisan fisik terkalahkan oleh rilisan digital. Untuk sebagian penggemar rilisan fisik, romantisme mencium aroma kertas pembungkus, meraba karya seni di sampul dan mengejar rilisan yang disukai dapat memacu adrenalin. Gairah-gairah semacam itu takkan tergantikan oleh rilisan digital.

IMG_8339.JPG

Toko-toko musik kecil yang jumlahnya lebih banyak daripada media penyedia streaming musik legal mengakui keberadaannya bisa terselamatkan oleh modal kecil, bahkan tanpa harus menyewa tempat mereka tetap dapat berjualan memanfaatkan media sosial. Setahun sekali wujud-wujud asli mereka dapat ditemui di ajang Record Store Day.
Geliat rilisan fisik sudah terlihat sejak 5 tahun silam. Tapi sebenarnya kolektor rilisan fisik sudah eksis sejak lama. Ada pula yang tetap bertahan dari era remajanya hingga kini mengumpulkan aneka rilisan fisik. Lalu bagaimana dengan mereka yang baru saja menjadi pengumpul rilisan fisik? Jumlahnya selalu bertambah dan memberikan warna baru dunia musik Indonesia.

musical trip bangkok 2
Kerapkali ditemui anak muda yang mendengarkan musik sambil menggali jejak sejarah, tempat loak menjadi salah satu tempat penampung harta karun, tak jarang juga ada yang berkelana ke radio-radio sambil berharap dapat mengakses rilisan fisik promo radio di masa lampau (piringan hitam khusus promo radio) atau mempunyai hobi baru datang di pertemuan keluarga besar bertanya-tanya tentang rilisan fisik bekas nenek kakek seraya menanti lungsuran mereka yang tersisa.
Untuk mereka yang beruntung mendapatkan lungsuran jejak alat pemutar rilisan fisik, baik itu pemutar piringan hitam atau kaset (pemutar CD masih mudah dicari) tidak perlu bingung mencari tahu bagaimana cara memperbaiki. Para penyuka rilisan fisik akan dengan senang hati berbagi kontak teknisi yang mampu memperbaiki. Bagi yang baru ingin memulai ada yang memilih untuk menjadi pengumpul tanpa mempunyai alat pemutar namun ada pula yang membeli alat pemutar terlebih dahulu. Kini banyak pilihan pemutar piringan hitam yang tersedia di pasaran, perlu referensi untuk mengetahui apa yang dicari. Untungnya pemutar kaset masih bisa ditemui di beberapa tempat.
Banyak cara untuk mendapatkan rilisan fisik. Bergumul di tengah komunitas para pengoleksi atau bergerilya, menyusup rumah-rumah yang disinyalir menyimpan aneka rilisan fisik. Pengoleksi bisa tetap santai atau menjadi pemburu yang gahar. Tanpa terasa pengetahuan musik pun bertambah dan apresiasi terhadap musik meningkat. Untuk para pengoleksi yang sehari-harinya bermusik, mereka menjadi musisi yang kaya referensi. Sedangkan pengoleksi yang sekedar hobi, kenikmatan tersendiri saat melihat koleksinya membuat lemari sesak. Ada kebanggaan dan cerita-cerita unik di balik perburuan yang selalu diceritakan berulang pada sejawat yang berkunjung.Banyak perubahan dalam hidup saat asyik menjadi pengoleksi rilisan fisik. Terjebak manis merawat barang-barang kesayangan, meluangkan diri untuk memutarnya satu persatu, di tengah aktivitas ada upaya-upaya menyisipkan sesaat untuk mendengarkan rekam jejak musik dengan cara yang lebih membutuhkan perhatian khusus. Bonusnya adalah perasaan riang saat menikmati waktu terasa melambat.

Selamat Jalan Ireng Maulana

image

Broken heart today. Selamat jalan Ireng Maulana.

My favourite album ever; Ireng Maulana feat. Rafika Duri, Bossanova Indonesia.

Kalau sering dengar tentang Eka Sapta (circa 60), itu adalah Ireng Maulana bersama Bing Slamet, Eddy Tulis, Enteng Tanamal, Kiboud Maulana dan Idris Sardi. Mereka kerap kali mengiringi penyanyi-penyanyi solo terbaik di jaman itu seperti Lilies Surjani, Vivi Sumanti, Tanty Josepha, Inneke Kusumawati, Maya Sopha, dan Ernie Djohan. Eka Sapta grup musik keren yang sangat diperhitungkan, main di acara-acara kenegaraan, bung Karno menyukai mereka. Beberapa piringan hitamnya dirilis oleh Bali Records, yang kini bernama Musica Records. Namun mereka atas kesibukannya masing-masing berganti formasi. Jopie Item pun pernah bergabung.

Ireng Maulana all star juga isinya the best semua; Benny Mustafa, Ireng Maulana, Maryono, Benny Likumahuwa. Sering bermain di festival jazz mancanegara.

Lagu-lagu enak di beberapa albumnya Margie Segers juga atas peran Ireng Maulana. Dia peracik lagu handal. Kalau nemu album Harvey Malaiholo yang jazzy tunes, Ireng juga yang berperan.

Ireng Maulana keponakan Tjok Sinsoe, pemain bass jazz legend eranya Nick Mamahit. Ia pernah bermain format trio dengan beliau.

Ia penata musik film-film di jaman itu, film Usmar Ismail juga. Tjok Sinsoe pun bermain di film Krisis.

Terimakasih banyak atas karya-karyanya om. Di sisi Tuhan mainkan nada-nada terbaikmu.

 

 

sumber foto: discogs.com dan kasetlalu.com

London Musical Trip

 

 

Music lovers pick London as their bucketlist. So did I, dreaming of London for exploring the various music was born on this city. On last September I got a chance to visit with the family for 6 days. I use this opportunity to digging LPs, visited record store and enjoy the musical performance.Here are a few places that I visited with the shortest possible time. As usual I always go to the art market and flea market.

 

  • Let’s start from Camden market. Quite interesting but too neat and touristic for me. But I can get older musicians LPs with low prices, 3 pounds, 2 pounds even if you are lucky. There are 3 record store quite a lot of choice but not quite complete. There is one special record store reggae music here. Provided free wifi for you who like digging while browsing discogs. LOL.

 

  • Covent Garden market, also known as the art market. The artist sells his work here. Once satisfied to see that the market like this exhibition, we could relax in the food court area similar to the many choices of good food. Try Mushroom Burger from Shake n Shack. In the middle big mushroom they put mozarella . While enjoying the food you can watch a variety show performance of the brass section to the opera singer.

    A little out of its market area you can see at a record store that guards once pleasant and very helpfull; Fopp. This is the first record store I went to, a collection of its current musicians quite complete. One floor second floor mixed music and movie collection. Cheapest price compared to other record store.

 

 

 

  • Portobello Market, one of the most lovely market in London. Colorful, warm, market spilled filled with street performers, antiques and LPs is expensive, many rare releases and legend. But do not worry Rough Trade is open here as well, if you can not to East London, could be spending a physical release here.

 

 

  • Berwick street, Soho.Initially we were here because my husbro want to take pictures set in Berwick street along LPs Oasis “Whats The Story Morning Glory”. And I was met with Reckless record , record store that has a collection of jazz releases overwhelming and it turns out they are orange shop in the Oasis album cover.  After chatting with a Japanese man kind we left Tesla Manaf’s CD he listens. And not far from there is place to drink beer, a complete painting tools and Sister Ray Soho is famous as a first Sister Ray on London. Waaa .. everything is unexpected. This delightful area. Do not forget to stop by also to Sounds of The Universe, still in the same area.

 

  • One of the most impressive from the street performer London is well-organized, those musicians who mostly sell releases, so we linger to see his performance. A small part singing, but still played with soulful.

 

image

  • You have not been to London if you have not watched any of a variety of musical performance. The Book of Mormon, Lion King, Mamma Mia, Billy Elliot, The Phantom of the Opera, Les Miserables and Wicked. We chose Wicked because of love with the story Wicked Witch and OZ. It turned out that the price is still relatively affordable, 20 pounds. Not too far from the stage. If one wants to watch at close range can rent binoculars for 1 pound.

 

Unfortunately we don’t have enough time for  jazz bar,  Abbey Road, Beatles museum, live musicIndependent Label Market, where labels will be selling direct to fans, it’s in Spittalfields Market.

We also passed Soul Brother record store which is said to have a great collection.Next, we will should stop by. We will back to London for the survey Substore London. Amen. HAHA

 

Bangkok Musical Trip

Seharusnya tulisan ini dibuat setahun yang lalu saat saya melakukan ide gila dengan Aria, keliling Asia Tenggara satu bulan tanpa itinerary. Alhasil kita mengubek setiap kota tanpa terpatok harus pulang kapan. Seingat saya, dulu kami belum beli tiket pulang. Jadi sama sekali tanpa perencanaan.

Destinasi yang dicari adalah segala hal yang berkaitan dengan musik, pertunjukan dan pasar-pasaran. Bangkok banyak banget pilihan pasar, kami fokus ke pasar antik, pasar anak muda dan pasar yang jual koleksi piringan hitam.

Ini beberapa destinasi untuk kamu penyuka musik;

  • Cak Tu Cak market, saking gedenya pasar Cak Tu Cak, kami gagal menemukan dimana letak penjual piringan hitam. Huft! Tapi cukup senang dan terhibur melihat pertunjukan musisi country dan arak-arakan perkusi. Selain banyak hal yang bisa dilihat, Cak Tu Cak bisa jadi pilihan utama untuk kamu yang suka belanja, makan enak sambil melihat pertunjukan jalanan.

 

  • JJ Green Market, letaknya masih satu area dengan Cak Tu Cak. Kalau Cak Tu Cak pagi sampai jam 6 malam, kalau JJ Green Market dari jam 6 sampai malam. Kongkow sambil ngebir, jajan kuah yang unik-unik dan ngeliat barang-barang dari desainer lokal Bangkok mungkin lebih santai di sini. Tempatnya ga seramai Cak Tu Cak dan ga terlalu banyak pilihan. Ada satu toko piringan hitam tapi sayang harganya seperti di Indonesia. Ga bisa dibeli untuk dijual lagi. Tapi kalau mau beli untuk koleksi sendiri ya lumayan. Koleksi jazznya banyak pillihan dibandingkan dengan genre lain.
  • Chinatown market, ini tempat favoritnya orang yang doyan street food. Mau makan aneka seafood, mie bebek, jus segar dengan harga superduper murah mesti kesini. Jangan lewatkan mencuci mulut pake duren Bangkok yang enak. Di sini pula kamu bisa menemukan satu record store tua dengan koleksi musik-musik Thai yang eksotis. Karena keterbatasan bahasa, kamu harus tau dulu siapa musisi yang kamu cari.

musical trip bangkok 8

  • Di daerah Ratchadapisek, coba cari Fortune Tower buat dapetin DVD musik murah, ada yang asli yang bajakan juga banyak. Pinter milihnya aja. Piringan hitamnya ada yang harga miring tapi sedikit haha. Banyak audio yang bagus-bagus, turntable aneh-aneh. Cuci mata tapi ga terlalu ok kalau dari harga, masih lebih murah di Indonesia.
  • Train Market, the name is Rot Fai Market. Is located on Srinakarin Soi 51, just behind Seacon Square Shopping Mall. Mending naik taksi aja dari Nut station biar ga bingung. Ini pasar antik terbaiknya Bangkok. Superbesar dan menyenangkan untuk diubek. Tiap toko didesain kayak rumah yang nyaman dan barang-barang di dalamnya bisa dibeli.

musical trip bangkok 7

  • Untuk pecinta rilisan fisik lokal dan kekinian, wajib mengunjungi Bangkok Art Culture. Cari record label Bangkok yang merilis musisi indie yang musiknya bagus, berkarakter dan beragam macam; Small Room record, Parinam record dan Colorcode.

musical trip bangkok 3

 

  • Menutup musical trip di Bangkok dengan menonton pertunjukan lady boy yang ciamik di Aquatique mall.

musical trip bangkok 1

 

Sebenarnya waktu saya untuk menjelajah Bangkok tidak cukup, walau masih sempat main ke record label, Smallroom, saya melewatkan menjelajah record store lokal anak muda, Recoroom di daerah Ekkamai. Next, pasti akan berkunjung.

Buat teman-teman yang punya rekomendasi tempat seru di Bangkok yang ada hubungannya sama musik boleh tulis di kolom komentar yah.

 

Kapun kap..

music, eat, cooking, travelling, and parenting

%d bloggers like this: