Category Archives: PERFORMANCE ART

my review about show, gigs or something like that

The Jacksons on Sounds Fair 2014

Ini adalah konser yang banyak menguras air mata. Bagaimana tidak, salah satu idola dari saya kecil hingga kini, menari dan menyanyi dengan begitu lincahnya. Saya melihat langsung The Jacksons tidak mengalami perubahan besar setelah ditinggalkan Michael Jackson, kecuali bagaimana saat mereka tampil ada beberapa skena yang membahas kesyahduan mereka sebagai kakak-kakak yang merindu sang adik.

photo 2 (7)

Pilihan yang tepat Sounds Fair memilih musisi legendari. Boyband pertama yang membuat saya di kala balita joget-joget keasyikan setiap mendengar lagu-lagunya. Saya memilih untuk menjadi bagian dari segelintir orang yang ingin bernostalgia dalam sendu bersama mereka, tidak terlalu heboh ikut menari, malah meringkuk menghapus air mata di area tribun.

Hati saya dibuat campur aduk. Dari perasaan bahagia yang mereka sajikan dalam segala bentuk. The Jacksons adalah entertainer! Mereka terlatih sejak kecil untuk menjadi penghibur andal. Di sela-sela lagu ada beberapa film dokumenter yang mencertakan tentang jalan karier mereka sehingga bisa sesukses sekarang. Ada sang ibunda dan ayah yang menceritakan betapa sempitnya rumah mereka saat dulu kala, mesti berjubel-jubel berbagi tempat. Kemudian ada Berry Gordy sang pengasah bakat yang menemukan Jackson 5 lalu mengajak mereka bergabung di Motown Records. Alur ceritanya seakan membawa kita kembali ke era dimana Motown tengah berjaya.

Setelah itu Jermaine menyanyikan lagu Gone Too Soon dengan pencahayaan yang bagus, membuat penonton tersayat-sayat mengingat dan merasakan sosok Michael Jackson ada menemani The Jacksons.

Sayang teriakan penonton meminta anchor tidak dianggap oleh para legendaris. Berakhirlah pertunjukan malam itu, pulanglah kami dengan hati bahagia..

Advertisements

Cibo Matto on Sounds Fair 2014

Saat tahu The Jacksons datang ke Indonesia, saya dan suami langsung membeli tiket Sounds Fair 3 hari plus The Jacksons special show. Dan ternyata sebulan kemudian baru tahu kalau Cibo Matto pun datang, makin jingkrak-jingkrak kita.

Kedatangan Yuka, Miho dan kawan-kawan minus Sean Lennon. Tak apa kami tetap menikmati sajian musik dari Cibo Matto dengan antusias. Saya menikmati mereka dari tahun 2004. Itu pun sudah cukup terlambat karena mereka sendiri ada dari tahun 1994. Yap, genap 20 tahun mereka berkiprah di dunia musik. Tidak ada yang berubah, mereka tetap enerjik seperti pertama kali saya mendengarkan albumnya.

photo 2 (8)

Cibo Matto masih terasa sangat Jepang sekali walaupun mereka sudah menetap di New York, lagu-lagunya yang berbalut aneka ambience elektronik tetap kaya dengan segala eksperimen dan musik lintas jalur. Beberapa kali mereka terasa begitu kental dalam rock, lantas beralih menjadi dance dengan selingan rap kece dari Miho. Beruntunglah Cibo Matto memiliki Yuka yang instrumentalist, musik mereka menjadi luar biasa kaya.

photo 1 (6)

Puas rasanya menonton langsung idola di depan mata. Saat pertunjukan berakhir saya menyelusup di keramaian dan memanggil Yuka serta Miho di balik barikade untuk menandatangan piringan hitam yang di bawa. Kebetulan saya punya Super Relax dan Stereo * Type A. Senang sekali saat Yuka berkali-kali mengucapkan terimakasih sudah datang. Ah, tampaknya kata-kata itu harusnya saya yang ucapkan berkali-kali.

photo 3 (6)

TrotoART Ambon

Ambon; City of Music. Bukan hanya sekedar stigma dan slogan semata. Penyanyi dan musisi dari berbagai genre beragam dekade yang berasal dari Ambon, mewarnai blantika musik Indonesia.

Saat kami ke Ambon. Beruntung sekali dapat menyaksikan langsung satu pertunjukan beragam seni di trotoar jalan Sam Ratulangi. Acara malam Minggu ini padat didatangi warga Ambon tua muda, beragam lapisan. Mereka baur dalam satu sukacita menikmati musik, lukis, puisi bahkan sedikit orasi.

IMG_0756

 

Acara yang kami lihat bernama TrotoArt. Suatu wadah untuk mereka berekspresi dengan seni. Panitia bahkan menyebutnya ini adalah acara suka-suka karena penyelenggaraannya tidak punya ketetapan waktu yang pasti.

 

IMG_0758

 

TrotoArt sudah diselenggarakan 10 kali. Acara yang berlangsung hingga tengah malam akhirnya harus usai. Kami terkesan sekali dengan semangat seni yang dimiliki oleh warga Ambon. Mereka mungkin sudah terlahir dengan satu paket kreativitas, daya imaji dan kemampuan berkesenian yang tinggi. Semoga TrotoArt bisa menjadi penyemangat warga Ambon untuk terus menggali segala potensi. Semoga pula menjadi acara yang berulang hingga menjadi satu rutinitas bagi Ambon.

 

IMG_8433

Soundrenaline Pengobat Keresahan

Memilih bukanlah perkara mudah bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa disuguhkan oleh keberagaman musik yang wara wiri di berbagai media.

Dengan mengusung semangat “Voice of Choice”, Soundrenaline 2014 menawarkan konsep unik. Pengunjung bisa memilih album yang disukai untuk dibawakan oleh musisi favorit. Itu yang pertama kali menarik perhatian saya saat datang ke helatan musik bertajuk Soundrenaline 2014, di Medan beberapa minggu silam.

Sebagai seorang anak muda yang sedang mengalami euphoria masa-masa pemilihan presiden, sempat terpikirkan, “jangan-jangan ini musisi bakal kampanye nih di panggung”. Ternyata itu hanya halusinasi saya. Para musisi tidak berorasi dan tetap manggung dengan karakternya masing-masing.

Yap, karakter! Setiap saat saya melihat musisi yang tampil di panggung besar Soundrenaline, sudah dapat dipastikan mereka adalah musisi yang memiliki karakter kuat di genrenya masing-masing. Karakter pun menjadi kata kunci penyelenggaraan Soundrenaline dari tahun ke tahun. Ketika berbagai acara musik timbul tenggelam menyuguhkan berbagai konsep menarik, Saya resah adakah acara yang bisa konsisten terus ada. Ternyata Soundrenaline tetap konsisten dengan keberadaannya karena ia telah membentuk karakter dalam acaranya tersebut.

Keresahan selanjutnya adalah kapan ya ada acara skala nasional berbentuk festival keliling kota-kota yang skena musiknya bagus di Indonesia (?)

Lagi-lagi Soundrenaline mencoba menjawab keresahan saya. Kebetulan semasa muda saya pernah menjadi panitia volunteer Soundrenaline  dan merasakan perbedaan acara musik lain dengan acara musik ini. Soundrenaline selalu mampu membuat kolaborasi dengan penggiat musik lokal dan musisi lokal. Hal inilah yang menjadikan Soundrenaline berbeda. Betapa tidak, penggiat musik lokal berlatih membuat acara dengan skala nasional, musisi lokal pun akan merasakan panggung dan peralatan yang setara dengan musisi nasional. Soundrenaline seakan memberikan investasi bagi daerah dimana acara tersebut diselenggarakan.

Kelak para tim acara dan musisi tersebut terlatih secara mental dan terbiasa dengan standar yang lebih mumpuni dibanding teman-temannya yang lain. Lalu mereka pun akan berkembang dan membuat skena musik di daerah menjadi lebih baik.

Semoga dengan adanya Soundrenaline di Medan kemarin, para penggiat musik lokal dan musisi lokal kian percaya diri membuat panggung bagi mereka sendiri karena Medan sudah mampu untuk itu.     Pssssst…..mungkin keresahan-keresahan ini ada karena saat membentuk karakter diri, saya memilih mendengarkan Sheila on 7 yang selalu menggoyang batin dan imaji.