Senandung Senandika Versi Saya

Di hari musik nasional ini, saya dan Aria ingin membiasakan diri untuk mendengarkan musik dengan cara paling syahdu versi kami. Dulu sekitar 2 tahun yang lalu, kami punya acara Denger Bareng, khusus untuk mendengarkan musik secara seksama tanpa berkegiatan sampingan. Acara itu masih berlangsung hingga sekarang, namun kami berdua merasa perlu lebih mengintimkan diri lagi. Mengurung diri berdua saja, meremangkan lampu kamar dan mendengarkan lagu-lagu dengan “headphone”. Sensasinya aduh gila, meleleh sejadi-jadinya. Album yang bikin saya sesenggukan kali ini adalah Senandung Senandika milik Maliq D’essentials.

 

Kedewasaan yang mereka tuangkan dalam lirik terasa lebih dari sekedar kata. Ada kesadaran tinggi tentang esensi hidup dan hal-hal mengenai nilai serta hakikat peran. Mengenai aransemen dan lagu, tokoh peracik nada di belakang album ini, tentu punya banyak waktu luang untuk mengulik ranah elektronik musik kekinian dibalut ke dalam kemasan komposisi khas Maliq D’ essentials. Bisa disimak di lagu Sayap, tambah menggila di lagu Maya, lagu pengingat identitas di dunia maya ini diracik sedemikian rupa dengan percampuran aroma irama Timur Tengah.

 

Saya selalu yakin, penggubahan musik yang bagus seringkali terinspirasi dari berbagai referensi musik bagus lintas genre. Komposer album Senandung Senandika bisa dipastikan adalah seorang pendengar dan penggali musik yang lihai.

 

Saat saya mendengar Musim Bunga, layaknya lagu-lagu romantis khas Maliq D’essentials, ada nuansa menenangkan yang segar sumringah menghiasi lagu ini. Rasa yang indah ini tak begitu tahan lama, beralih ke lagu lain, ada tawaran rasa yang lebih dalam, membuncah seperti rindu, kenangan terhadap masa kecil dari sudut pandang sederhana, penggambaran sosok guru di lagu Kapur dan sosok orangtua di lagu Idola. Sempat menangis, meresapi apa yang ingin mereka bagi tentang rasa apresiasi pada sosok-sosok pembentuk kita kini.

 

Bila kata dituang dan dimaknai tidak hanya sebagai lirik pelengkap, lebih dari itu, kekuatannya bisa membukakan cakrawala lain. Interpretasi bisa hanya sebuah kemungkinan, jikalau boleh sok tahu, lagu Senang, Senandung Senandika, Titik Temu, Manusia lahir dari keresahan-keresahan lahiriah yang berlapis dan sedikit demi sedikit berbicara di tataran rasa. Berikut petikan kalimat dari tiga lagu tersebut yang bila disambung menjadi kode misi hidup manusia;

 

Manusia biasa seperti kau luar biasa

Bisa terbiasa

Menerima, memahami dan akhirnya memaklumi tanpa ada karena

Sedalam apa baca hati saja, diam tenang

Percaya tak percaya, caranya yang dirahasiakan

Dan percakapan hati pertemukan

Semua kemungkinan mendekat, melihat

Siapakah si pengalah, siapa si jawara

Siapa sang penguasa

Senandung Senandika tiada yang benar salah

Senandung Senandika tiada yang menang kalah

 

Sebuah perjalanan akan garis waktu

Hingga titik temu membukakan pintu

 

Hai Maliq D’essentials maafkan imaji konspirasi ini. Selamat untuk album bagusnya. Terimakasih sudah memberikan rasa nyaman setelah mendengarkan album Senandung Senandika. Malam ini lebih gurih tanpa tambahan bumbu penambah rasa.

 

 

 

Jogjakarta, 9 Maret 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s