The Bike Song

Pernahkah kamu mendengarkan sebuah lagu berjudul The Bike Song dari Mark Ronson? Coba simak sebentar dan apa yang kamu bayangkan?

Bersepeda membutuhkan niat yang bulat untuk meruntuhkan kemalasan-kemalasan yang senantiasa membisikan ajakan hal yang lebih santai dan mengasyikan.

Misal; “Ya enakan nonton TV di rumahlah ga kena panas.” Atau “Hm lebih baik browsing tiket murah di kamar berAC siapa tau ada yang nyangkut.”

Kalau saja kita berhasil mengusir kemalasan itu, bersepeda dapat menjadi wahana mendapatkan inspirasi dan banyak wawasan baru.

Beberapa bulan ke belakang saya mulai membiasakan diri mengendarai sepeda. Dan apa yang saya dapatkan? Saya bisa melihat lebih nyata kebahagiaan-kebahagiaan orang yang ditemui di jalan. Tidak hanya menyusuri jalan besar, saya mencoba masuk gang-gang setapak yang jarang dilalui.

Dari situ saya bisa melihat langsung pada mata abang Bakso yang sedang tersenyum, saya menyerap kebahagiaan yang dia punya, entah karena apa, mungkin dagangannya sangat laris hari ini.

Tak sengaja saya bertemu dengan seorang bapak yang membawa perlengkapan audio lengkap menempel di sepedanya, saya mengikutinya dan mendengar beliau menyanyi kecil meniru lagu yang sedang diputarnya. Kocak memang. Ia pun menyadari keberadaan saya dan kami mulai bertukar senyum. Ada perasaan hangat yang hinggap di hati.

Namun tidak hanya kebahagiaan yang saya temui, ada nada sedih pada nafas seorang kakek yang rumahnya sebelah kuburan, saya melihat ia sedang mendengarkan ceramah upacara penguburan seseorang. Beliau tampak sedang menguping, ada terlihat raut khawatir. Mungkin ia pun sedang mempersiapkan diri, bilamana tiba saatnya ceramah itu ditujukan sebagai ucapan perpisahan untuknya.

Bersepeda…

I run around town
Around around and round
The pedal to the metal
The pedal to whatever

Saya kadang hanya mengikuti kemana pedal mengarah, kadang ia salah arah lalu mencari arah yang benar. Kadangpun ia lelah hingga perjalanan terasa lebih lambat.

Satu hal yang bisa kita rasakan saat bersepeda; momen kini. Terkadang kita sibuk mengingat masa lalu dan merencanakan masa depan namun lupa menikmati hal yang kini. Momen-momen tersebut seolah merefleksikan waktu yang seakan berhenti, kita tak lagi berpikir tentang kemarin dan esok.

Bukankah manusia terlampau lelah untuk berpikir dan lupa bagaimana caranya hening, menikmati yang ada di depannya?

Sempat saya membaca sebuah kutipan indah dari bli Wayan Mustika;

“Heninglah sejenak. Bebaskan pikiranmu dari tugas-tugasnya untuk memahami kehidupan yang tak kuasa dipahaminya. Biarkan ia istirahat dan hanya menjadi pendengar bahasa hatimu yang netral. Dengarkan pesan-pesannya yang bijak dan bebas dari penilaian. Karena saat itulah Aku, Sang Jiwa dalam dirimu, sedang bicara padamu sebagai hati nurani.”

 

Bersepedalah, kamu akan menemukan keramaian yang penyendiri, hangat dan kamu bisa masuk dalam hening yang diciptakan, di situlah kamu akan merasa nikmatnya mensyukuri apa yang dimiliki…

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s