Musik dan Pasar yang Bisa Diciptakan

Ini tentang sebuah diskusi yang sudah cukup lama saya datangi, sekitar bulan Maret silam, namun baru sempat ditulis di blog karena perlu menyatukan tweet-tweet yang ada di akun Koalisi Seni dengan tweet di Alinea TV. Konten dari diskusinya sangat penting untuk ekosistem musik di Indonesia.

Cholil membuka diskusi dengan topik “Musik dan Pasar yang Bisa Diciptakan”.

Ia berpendapat stigma tentang band yang menyuarakan isu sosial dan kerap bertolak dengan label besar sebenarnya kurang tepat. Karena, band seperti Slank dan Iwan Fals, yang punya sikap politis dalam musiknya, justru menjadi mainstream dalam musik Indonesia. Sekarang ERK sudah tidak punya hambatan seperti dulu ketika bicara “pasar bisa diciptakan”. Mungkin band-band yang baru menghadapi hambatan seperti ERK dulu: musik mainstream dan label.

Awalnya ERK juga tidak terlibat banyak. Soal hak cipta aja, ERK memilih creative commons karena tidak mau komersil. Banyak musisi yang belum terlalu peduli dengan revenue system, entah dalam bentuk direct-income sampai publishing. Tidak semua musisi berekspektasi benar-benar hidup untuk bermusik. Di luar bermusik, mereka mencari penghasilan dengan bekerja seperti biasa. Strategi untuk mendistribusikan musiknya & sampai ke publik seluas mungkin menjadi kebutuhan utama, belum tentang finansial. Tujuannya hanya untuk menarik massa.

Tentang era internet:

Coki:

Sekarang ada peluang yang ada dengan kemajuan internet. Label juga baru belajar. Ini perlu dikuasai musisi. Internet itu sangat membantu. Kelas menengah itu cukup relate dengan bandnya. Jadi setelah mendengar, mereka ikut meramaikan sendiri. Internet menciptakan pola baru: free sharing. Tapi justru,daya beli konser & merchandise meningkat. Inilah ‘konsumsi baru’.

Cholil:
Internet ngaruh ke perubahan perilaku pembeli musik. Internet kabar baik buat nyebar info tp kabar buruk buat distribusi. Internet itu semangat jamannya gratis. Ya diterima aja. Musisi harus banyak manggung. Mereka gak beli CD tp mau beli tiket. Penggemar musik masih bersedia mengeluarkan ratusan ribu tapi gak lagi beli CD. Konser ERK kmrn sold out dalam 2 hari.
Indie Label atau Major Label?

Cholil:

Sekarang orang bertanya apa untungnya masuk major label. Kalau gak untung ya masuk jalur indie aja lebih bebas. Perizinan itu menjadi momok musisi. Slank harus lanjutkan Judicial Review agar izin bukan di polisi tapi di Budpar. Dengan makin mudahnya musisi bikin konser, ekosistemnya jadi lebih baik buat pasar musik. Masyarakat sekarang sudah pintar pilih mana yang mau dia dengar dan gak. Pemerintah gak perlu bilang “jangan dengar lagu cengeng”. Biar masyarakat yg menentukan sendiri musik apa yg ingin mereka dengar. Pemerintah memfasilitasi infrastrukturnya.

Ada kebijakan baru dari Pemda Jakarta dalam mengakses gedung pertunjukan seperti Taman Ismail Marzuki & Gedung Kesenian Jkt. Harga sewa gedung pertunjukan lebih terjangkau. Band-band  mulai memanfaatkan fasilitas tsb; seperti WSTACC, Ari Reda, dan ERK. Hal ini menularkan semangat kpd musisi lain tentang referensi venue musik. Kebiasaaan menonton di gedung pertunjukan juga dibangun.

Di ERK, kami berstrategi dengan mencari rekanan kerja yang juga mendukung visi musik kami. Dari label, media, dll. ERK tidak merasakan perubahan konsumsi musik dari fisik ke digital. Kami masuk saat masa transisi itu & kebetulan bisa mencermatinya. Hal ini berbeda dgn band-band sebelumnya yang berada di pola konsumsi fisik: kaset dan CD. Mereka merasakan kerugian pasar itu.

Coki:

Ini zamannya musisi milih jalur yg sesuai dengan visinya. Sekarang bukan lagi tentang indie-major, tapi lebih kepada: saya punya visi, maka lebih baik berjejaring di akses yg mana?. Kalau mau masuk TV ya ke major label. Kalau yang suka manggung ya indie label. Era indie seksi dan major jahat itu udah selesai tahun 90-an. Musik bagus ada di mana-mana. Indie adalah spirit. Label dari dulu pun memproduksi berbagai varian band ‘bagus-jelek’, jadi bukan gatekeeper tunggal. Label melihat kepentingan profit, bukan berfungsi sebagai taste maker. Fungsi tersebut lebih dilakukan oleh radio.

Ada pertanyaan dari penggerak musik di Palu mengenai musisi lokal yang selalu ingin mendengar/bercermin pada musisi di luar daerahnya (musisi ibukota)

Ini dihadapi semua musisi. Di Jakarta sama band-band luar. Kita harus punya jalan keluar. Mungkin karena gak ada ikatan emosional. Mulai dr sesama musisi nonton konser temannya. Diperluas, terbangun emosional sehingga stempel band ibukota itu bagus surut.

Coki menanggapi bahwa kini, situasinya adalah hambatan berada di distribusi. Musik yang bagus di Indonesia tidak masuk ke media TV. Musik Indonesia sudah baik tapi gak ada distribusi yang baik. Harusnya TV publik itu memberi ruang buat musisi Indonesia. Masing-masing sibuk sendiri. Orang TV hanya urus TV. Musisi hanya urus musik. Harusnya sekarang kolaborasi. Kelebihan lo di lokal itu lo lebih tahu apa yg masyarakat lokal  mau. Itu yg perlu dibangun: kelokalan dan jaga kualitas. Silam Pukau dan Semak Belukar pun dikenal karena unsur kelokalannya.

Setiap pelaku dalam ekosistem musik kini bermain secara sektoral, belum terpusat di dalam domain distribusi. Saya datang ke konser musik besar-kecil,yg saya lihat audiensnya masih sama. Ini bukti bhw pencapaian audiens musik stagnan. Musisi stdknya harus mempunyai pengetahuan tentang framework management dalam bisnis musik. Fungsinya untuk strategi penjualan. Musisi tetap harus punya edukasi dasar tentang distribusi dan konsumsi musik, sehingga mereka punya posisi tawar lebih baik. Dalam sebuah studi di Inggris, menonton konser bisa didefinisikan sbg bentuk konsumsi. Jika kita melihat peta revenue ini, investasi ke arah konser berikut dengan gedung pertunjukannya dapat dilakukan.

Apakah musik perlu sebuah kebijakan?

Sangat baik kalau musisi dan semua stakeholder di dunia musik ikut mendorong perubahan kebijakan. Musik itu bisa untuk soft power dan ekonomi. Pemerintah pahami dulu potensinya itu saja dengan baik.

 

Percakapan di dalam diskusi ini bisa disaksikan di kanal #KesenianIndonesia kerjasama Koalisi Seni Indonesia dan AlineaTV di alineatv.com/kanal/kesenianindonesia

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s