Mencintai Musik Indonesia Dari Titik Nol

Semuanya berawal dari pertemuan saya dengan Glenn Fredly. Ia mengajak saya untuk ikut launching DVD dan Cd Glenn Frendly and The Bakuucakar Live at Lokananta Studio pada tanggal 2 Oktober 2012.

Saya hobi berkicau di Twitter tentang apapun yang menarik, terlebih musik. Kebetulan apa yang saya lihat saat launching sangat menarik untuk dituliskan kembali di Twitter. Sebelumnya saya hanya tahu, Lokananta sebagai perusahaan pembuat piringan hitam, di luar itu saya tidak tahu apa-apa tentang Lokananta.

 

 

Lewat acara launching tersebut saya jadi banyak mengetahui fakta-fakta tentang Lokananta studio dan di situ pulalah awal  berkenalan dengan pak Andi, staf dari Lokananta studio.

Sepulang dari launching yang terpikir hanyalah menonton ulang DVD Glenn Fredly dan googling apapun yang berhubungan dengan Lokananta. Rasa penasaran saya lebih besar dari apapun saat itu. Tidak banyak artikel yang saya dapat, untungnya di dalam DVD tersebut ada satu buku kecil yang berisikan tentang informasi Lokananta Studio. Kembali saya kicaukan fakta tersebut.

Antara lain:
– 30 persen dari karya tidak terawat dan rusak
– Beberapa koleksi dijual secara terpaksa kepada kolektor untuk biaya operasional
– AC tidak bisa dinyalakan selama 24 jam
– Banyak mixer vintage dan alat pemutar yang bisa dirawat dan menjadi aset penting sejarah
– Sejak tahun 2000 pailit dan tahun 2004 bergabung dengan  Perum Percetakan Negara

 

 

Lalu fakta menarik yang bisa dibanggakan tentang Lokananta:
– Lokananta adalah sebuah perusahaan rekaman musik milik pemerintah pertama di Indonesia
– Lokananta memiliki koleksi lagu daerah yang lengkap
– Gamelan Sri Kuncoro Mulyo bisa berbunyi sendiri dan merupakan peninggalan dari jaman pangeran Diponegoro
– Studio rekaman terbaik dengan ruang luas dan akustik ruangan yang sangat memadai untuk live recording
– Lokananta menyimpan master pidato proklamasi bung Karno dan beberapa pidato pemimpin negara lainnya
– Koleksi vinyl dan master lagu yang puluhan ribu sejak tahun 50an, menjadikan Lokananta sebagai tempat bersejarah bagi musik Indonesia

Setelah fakta-fakta ini dipaparkan di linimasa. Banyak respon yang masuk di akun Twitter saya. Atas dasar impulsif saya iseng melempar ide untuk penggalangan dana dan program kepedulian pada Lokananta. Sungguh mati saya tidak tahu hendak buat apa. Ini adalah sesuatu yang datang begitu saja. Lalu ide saya disambut oleh beberapa kawan di Solo, kemudian makin banyak respon yang mendukung hingga respon lucu dari beberapa teman yang merekomendasikan temannya di Solo yang dikenal sebagai anak muda yang peduli dan paham musik.

Saya cuma bisa menyapa dan berbalas mention, menghitung berapa orang yang merespon dan mencatatnya satu-satu, siapa tahu saat ide konkritnya sudah ada, saya bisa ajak mereka.

Tanggal 3 Oktober mendapat banyak info-info baru tentang Lokananta termasuk artikel lama dari Rolling Stone, kebetulan penulisnya adalah teman di Twitter, makin bulatlah saya ingin berbuat sesuatu. Saya memilih dua orang Jakarta, mereka mau berbuat sesuatu untuk Lokananta tapi kembali pada satu hal, kita belum tahu mau berbuat apa. Saya mulai membuat tim kecil, mencatat teman-teman Jakarta yang bisa saya percaya, tapi jujur saja saya lebih nyaman dengan tim yang kecil namun solid. Saya mengajak Sarah Glandosch (Ivy League Management), lalu Alain Gunawan (Inksomnia) mengajukan diri untuk membantu, menyusul Ajeng Lembayung bersedia ikut serta. Yap, tim kita cuma berempat saja, saya, Sarah, Alain dan Ajeng.

Saya butuh dukungan orang yang kuat dan tahu persis Lokananta seperti apa, lalu saya mengajak Wendi Putranto, (menulis tentang Lokananta di album DVD Glenn Fredly) untuk ikut program ini.

Tanggal  4 Oktober saya bertemu Wendi Putranto dengan berbagai rencana berupa kertas 8 lembar berisikan coretan dari pensil. Wendi Putranto menghubungi Lokananta, dan disetujui oleh pihak Lokananta untuk membuat acara yang bentuknya pun kita belum tahu.

Dalam waktu yang bersamaan saya membangun koordinasi dengan rekan-rekan Solo, Adia (Prambors Solo), Adi (Down For Life Solo), Nico (Wolfmothers) dan Allan Bona (Prambors Solo). Mereka dengan senang hati membantu.

Lalu tim kecil Jakarta bertemu untuk pertama kali di tanggal 5 Oktober, di saat itu saya sudah membuat proposal sederhana yang ternyata sedikit demi sedikit akhirnya membentuk suatu susunan acara, diskusi, live performance, video pendek, dan pemutaran vinyl Lokananta. Band yang pertama kali mengajukan diri untuk mendukung adalah Navicula, maka dari itu saya merasa perlu mencocokan tanggal dengan mereka. Kebetulan Navicula manggung di Jawa Tengah tanggal 20, lalu lagi-lagi secara impulsif saya menunjuk tanggal 21 untuk penyelenggaraan acara di Solo. Sebetulnya ini bukan hanya penggalangan dana, tapi ini adalah acara pengumpulan kepedulian, agar anak muda Solo tahu keadaan Lokananta dan menjadi peduli dengan sendirinya. Nyatanya tanggal 21 terlalu dekat, lalu kita pun menggeser ke tanggal 28 Oktober. Lucunya, saking kita sibuk masing-masing, belum sadar kalau tanggal 28 bisa dijadikan momen bagus. Saat sama-sama sadar kalau kita bisa mengangkat tema Sumpah Pemuda, tercetuslah suatu ide untuk membuat “Deklarasi Lokananta”, yang isinya adalah: “Kami muda mudi pecinta musik Indonesia berjanji satu, tidak akan meninggalkan Lokananta.”

Yap, lalu kita membungkus semuanya dan bersiap ke Solo. Dalam perjalanan menuju persiapan Solo, Wendi Putranto sempat mencetuskan untuk ide ulangtahun Lokananta. Kebetulan tanggal 29 Oktober, Lokananta berulangtahun ke 56 tahun. Saya pun memutar akal untuk meleburkan beberapa ide agar Lokananta bisa terekspos juga ke banyak kota, sebagai wujud kepedulian. Lalu saya melempar kembali ide untuk membuat acara di kota-kota yang memiliki komunitas musik untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi Lokananta. Kita pun membuat kaos Lokananta hasil desain Umar dan diproduksi oleh Inksomnia yang kebetulan saat itu Alain sedang operasi besar (dia mengurus produksi kaos dari atas ranjang rumah sakit). Penjualan kaos sekarang ditangani oleh Ivy League dan dapat dipesan di http://ivyleaguemusicpromo.multiply.com.

 

Tercatat ada 17 kota yang memiliki keinginan untuk berpartisipasi.

 

 

Kota-kota tersebut digawangi terlebih dahulu oleh 6 kota yang menjadi debut #SahabatLokananta, yaitu: Jakarta (terlibat langsung: Gugun Blues Shelter, Karon n Roll, The Upstairs, Endah n Rhesa dan TOR), Bandung (Tito Tessa dan Nada Fiksi), Bali (Tria menyiarkan 2 jam on air mengenai Lokananta), Makasar (Ardy Chambers membuat acara di Chambers), Salatiga (Dimas dan teman-teman kosannya), dan Magelang. Dan menyusul 11 kota lainnya, Medan, Balikpapan, Ambon, Purwokerto, Semarang, Malang, Cirebon, Tasikmalaya, Pontianak, Klaten dan Jogjakarta.

Saat itu mereka hanya membuat gig kecil yang memutarkan video singkat tentang Lokananta dan Sahabat Lokananta serta mengadakan acara sesuai dengan ide kota masing-masing. Idenya sesederhana diskusi musik, akustikan atau malah seperti di Salatiga, mengumpulkan teman kos sambil makan kacang nonton video dan membahas musik Indonesia dari tinjauan sejarah. Seru dan menyenangkan. Sebenarnya video ini adalah hasil racikan Tama dan Achmad Alkatiri dalam waktu satu hari, menjahit dari footage milik Patrick Effendy yang tempo hari membuat video Live Recording Glenn Fredly di Lokananta. (www.vimeo.com/sahabatlokananta).

Itu semua berlangsung di tanggal 29 Oktober, peringatan ulangtahun Lokananta begitu meriah di beberapa kota. Dan acara Lokananta yang di Solo pun tidak kalah meriah, berlangsung sehari sebelum ulangtahun Lokananta. Acara pertama adalah pemutaran vinyl pidato proklamasi Bung Karno disusul dengan pemutaran beberapa lagu daerah di Indonesia, diskusi dari penyelenggara acara dan pihak Lokananta sendiri, live performance dari White Shoes and The Couples Company (kebetulan mereka sedang melakukan live recording di Lokananta), pemutaran video Sahabat Lokananta dan live performance dari Endah Laras, Sruti dan para musisi keroncong sesepuh Lokananta. Acara berlangsung sederhana namun meriah, dihadiri oleh sekitar 250an anak muda dari Solo, Jogja, Salatiga, Purwokerto dan sekitarnya. Rasa haru dan keingintahuan yang mendalam terlihat dari wajah beberapa anak muda itu. Saya dan teman-teman Solo mengumpulkan daftar nama dan kontak mereka untuk pendataan kelanjutan program Sahabat Lokananta.

Ya, saatnya anak muda Indonesia menunjukkan kepeduliannya pada musik tanah air dengan membuat sebuah gerakan kecil yang merujuk pada sebuah tujuan konkrit, Mencintai Musik Indonesia Dari Titik Nol.

Foto: koleksi pribadi
Foto The Upstairs: Tama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s