Arian 13 Bicara Tentang Bad Review

Ketika sebuah cita-cita menggantung di tepi dan dua langkah pijak lagi tercapai, pekerja seni mengalami satu proses pemantapan, bukan hanya dari pasar yang mengapresiasi namun dari penentu alur pasar, yaitu media. Kerap kali media me-review karya dengan beberapa pandangan yang berbeda tergantung dari rasa dan karakter media tersebut. Dan sebagai sebuah karya yang ingin dikenal, tentunya kita membutuhkan dukungan dari media, namun ada kalanya media memberikan review yang kurang mengenakan, tidak perlu didebat atau dipermasalahkan, sekarang bagaimana caranya kita bertahan dan berbesar hati menerimanya, ini dia pendapat dari kakak kita yang telah malang melintang sekian lama di dunia musik ‘hingar-bingar’, Arian13, vocalis dari band Seringai, pada suatu malam dia menuliskan di linimasanya beberapa hal yang dirangkumnya dalam sebuah bahasan “ How to Survive a Bad Review”.

Secara menarik dia memaparkan kalau review itu sudah pasti bersifat subyektif, berarti pendapat dari orang yang me-review, bukan mutlak pendapatnya benar. Media yang akan mendukung musisi dalam berkarya tidak hanya media cetak dan elektronik saja, namun media sosial pun patut diperhitungkan, kalau karya kita mendapat bad review janganlah berkecil hati, its still publicity, daripada kita tidak mendapat penilaian sama sekali dan itu bisa menjadi kritik membangun. Mungkin awalnya akan merasa kecewa dan kecil hati, tapi tidak perlu berlarut-larut, karena ini bukan akhir segalanya.

Kebanyakan musisi yang mendapat bad review akan bereaksi defensif, agak sakit hati dikecilkan dan berpikir “ tahu apa sih si X tentang musik gue?’ Tapi reaksi defensif itu seakan menggambarkan kalau karya kita belum siap di apresiasi dan dinilai, disinilah mental kita dipertanyakan, sudah siapkah dipromosikan atau berhenti saja dipromosikan karena belum siap mental untuk dinilai. Karena sedikitnya dalam sebuah bad review ada sebuah titik kejujuran, pengecualian untuk review yang menyerang fisik musisi tanpa peduli musiknya. Selain dari musiknya, dalam bad review biasanya akan mengkritik keseluruhan unsur, cover/artwork, packaging, karena itu satu kesatuan. Cobalah untuk secara obyektif menganalisa bad review ini, justru ini akan membuat kita berimprovisasi karya di masa depan. Dan ketika kita menerima bad review, janganlah ditulis di blog ataupun di jejaring sosial lainnya, its uncool. Kumpulkan saja reviewnya kemudian di evaluasi kembali. Bila kita bereaksi berlebihan dan tidak menerima #badreview tersebut, bisa menjadi bulan-bulanan media, konyol dan tidak penting. Itu akan berpengaruh pada penjualan album. Bila reaksi dari #badreview adalah menerima dan tetap cool, itu justru akan menimbulkan simpati dn kesan yang baik. Sebaliknya bila menanggapinya dengan emosional, media akan memberikan cap yang selalu diingat malah akan menyebar ke publik, “ oh itu band yang dulu marah-marah gara-gara bad review?” Sebenarnya bad review itu adalah opini bukanlah fakta, bila merasa tidak sesuai tidak perlu terlalu diindahkan, lurus saja dan buktikan dengan karya yang lebih baik.

Tapi ada juga band yang bersikeras bilang, tidak terpengaruh dengan bad review namun terus mengungkitnya, malah terlihat seperti menyimpan dendam, itu juga uncool. Apalagi bersikap brutal dan balik menyerang, itu sama dengan mematikan karier, belum tentu karya selanjutnya akan ada yang me-review dan mempromosikan. Semisal band kita dibandingkan dengan band lainnya dan kurang tepat perbandingannya, jangan diambil hati, maksudnya adalah feel dari musiknya. Jangan langsung nge-judge si reviewer berwawasan dangkal dan merasa paling ciamik, ajak saja berdiskusi secara sopan, cari kesempatan untuk membahasnya bersama. Kalau mendapat bad review di sosial media jawab saja sederhana dan rendah hati, “terimakasih sudah mendengarkan album kami.” Kalaupun ingin merespon bad review secara verbal di media, ada baiknya berkonsultasi dahulu dengan anggota band lainnya dan mengutus seseorang untuk merespon review itu sebelum dirilis. Karena merespon review dengan vulgar bukanlah pilihan, tidak dianjurkan dan akan terkesan norak.

Karya yang keren adalah karya yang siap diinterpretasi dari berbagai sudut pandang, kalau cuma lo yang bisa nikmatin ya sama aja kayak masturbasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s