Halo, Irama Lautan Teduh

Sudah cukup lama saya ingin menulis tentang Irama Lautan Teduh, namun apa dikata, baru sekarang ini punya waktu dan perlahan mengurut kejadian demi kejadian yang sangat istimewa di hidup kami (Intan, Aria dan Teduh).

Awalnya kami ingin menunda punya anak hanya setahun karena berencana pergi ke Eropa. Namun hingga tahun ketiga pun, belum ada tanda-tanda bakal hamil. Pernah suatu ketika saya menjadi vegetarian selama 6 bulan dan menstruasi sangat tidak teratur. Sampai masuk hampir pernikahan tahun keempat, kami coba untuk cek kesehatan dan konsultasi ke dr Dradjat di Sam Marie atas saran Angga dan Anggia, sepupu saya. Lucu banget, dr Dradjat meminta Aria untuk menambal gigi dan memakai kacamata. Setelah dicek ternyata Aria matanya silinder. Lalu hasil LAB keluar, imun saya lebih tinggi daripada Aria sehingga membutuhkan suatu proses pengenalan darah melalui imunisasi, namanya ILS  (Imunisasi Leukosit Suami). Dalam perjalanan ini, kami tanpa sengaja bertemu dengan bang Yanto yang diberi anugerah sebagai terapis oleh Tuhan (healer), ia memprogram ulang energi dan alirannya yang hanya terpusat di kepala saya. Kemungkinan besar, saya yang sering berpikir dan mempergunakan otak lebih besar daripada organ lainnya, memiliki kekurangan di area reproduksi. Setelah semuanya selesai niatnya kami ingin mengambil program hamil di Sam Marie. Tapi sebelumnya saya dan Aria sepakat, bisa atau tidak bisa kami punya anak, tak akan menjadi kendala, masih bisa adopsi atau pelihara hewan, kami ikhlas karena ini adalah sebuah rezeki dari Tuhan, tak perlu dipaksakan.

Lalu hidup mengalir laksana tak ada yang dinanti, kami hidup normal tanpa mengingat apa yang sudah dilakukan. Beberapa bulan setelahnya, di bulan Maret 2017, badan saya gaenak, lemah lesu dan mual, padahal sudah siap berkemas menuju ulangtahun Substore Tokyo. Periksa testpack iseng-iseng, gamau terlalu berharap karena ini sudah 5 kalinya periksa. Waaaaaa, ternyata positif, usianya sudah 5 minggu.

Kami berdua pejamkan mata berterimakasih pada Tuhan dan merasa seperti ada aliran kebahagiaan yang damai, bukan riang berlebih, ternyata bahagia atas kesabaran sebuah penantian rasanya bisa sesejuk ini.

Datanglah kami ke dr Dradjat untuk di USG. Untungnya beliau tidak melarang kami untuk pergi ke Jepang. Wihii, kali pertama nih kami vakansi bertiga.

IMG_5234.JPG

Di usia hamil muda, kami bertemu ibu Merry Hoegeng, istri dari jendral Hoegeng. Ia bercerita mengenai sejarah musik Hawaii. Kala itu pak Hoegeng menamakan musik pesisir ini dengan nama Irama Lautan Teduh, sebenar-benarnya ini adalah musik pesisir area Pasifik yang bisa ditemui di daerah pantai tak hanya di Hawaii saja. Singkat cerita, karena kami suka pak Hoegeng, musik Pacific Island, dipilihlah Irama Lautan Teduh sebagai nama anak pertama kami. Teduh panggilannya. Ted kalau dia tinggal di NYC, Eed kalau di Majalengka, Duduh kalau di Tasikmalaya, apapun panggilannya dipastikan kelak ia adalah anak yang memiliki senyum ramah terindah.

Masa-masa kehamilan dilalui dengan sukacita, di bulan ke 6 dan ke 7, kami sempat jalan-jalan lagi ke Bangkok, Chiang Mai dan Singapura, wisata kuliner, keliling record store, tempat kopi atau sekedar cicip es krim pinggir jalan.

Saat itu perencanaan persalinan sudah benar-benar rapi. Kami sudah bulat tekad ingin “water birth”, sejak pacaran kami sudah diberi rezeki bertemu ibu Robin Liem dan merasa terinspirasi. Beliaulah yang membukakan pengetahuan baru tentang ayah alami, ibu alami dan anak alami melalui bukunya. Di usia kehamilan 5 bulan saya sudah mengontak bidan Yuli dari Rumah Puspa dan dr Musa sebagai back up plan dari Rumah Sakit Asih. Di usia 36 minggu sempat meminta semangat pada mas Reza Gunawan dan Teh Dewi Lestari supaya bisa lahiran di rumah.

IMG_2874

Sabtu, 11 November, kami berencana untuk USG dan berkenalan dengan dr Musa. Pulangnya teman-teman sudah menunggu untuk Baby Shower sambil makan-makan ala Meksiko (ini bulannya telat sih tapi bikin happy banget).

Malamnya sekitar pukul 4 lebih menuju dini hari, saya merasa pipis seperti ngompol yang tidak bisa dikontrol. Mulai agak cemas, jangan-jangan ini air ketuban. Saking santainya, saya bilang Aria lalu ketiduran lagi karena ngantuk, teman-teman baru pulang jam 2 pagi. Bangun tidur ternyata benar, airnya makin banyak, seperti rembesan namun jernih, buru-buru telpon ibu bidan untuk segera ke rumah. Bu bidan menyuruh saya untuk terus minum air kelapa agar tidak kekurangan air ketuban. Jam 12 siang tim dari Rumah Puspa datang dan kami berdua diperlakukan dengan penuh kasih sayang, dipersiapkan untuk menyambut anak kesayangan yang dinanti. Berbagai cara dilakukan untuk menambah bukaan dan memancing kontaksi, dari pijat hingga bantuan bola semua saya coba. Sayangnya hingga keesokan hari pun bukaan tidak bertambah, mentok di bukaan 2. Minggu pukul 4 sore, bu bidan menyarankan untuk cek kadar dan kuantitas air ketuban ke Rumah Sakit Asih sekaligus minta saran dari dr Musa. Intuisi saya menginginkan USG, tapi sayangnya tidak didengar, malah langsung menuju ruang induksi. Mengingat ketuban sudah pecah duluan, tim medis Asih terlihat agak panik dan memberikan saya infus yang sudah dicampur obat induksi. Sakitnya bukan kepalang. Saya kesakitan hingga sakit perut dan buang air besar di barak tunggu sebelum ruang tindakan. Tim dari Rumah Puspa akhirnya menjadi doula saya. Tanpa mereka mungkin hati dan jiwa saya dan Aria sakit. Merekalah yang menguatkan kami. Tapi sakitnya saya kalau menurut Aria tampaknya dibatas kewajaran, pukul 12 malam saya menjerit-jerit kesakitan tanpa jeda hingga jam 2 malam. Bukaan sudah sampai di 10 dan kepala bayi tidak dapat dijangkau, masih terlalu jauh. Saya dan dr Musa memutuskan untuk caesar, bukan saja karena tidak kuat menahan sakit dan kontraksi sudah cukup lama, saya sudah ikhlas untuk mengambil jalan termudah agar anak saya tidak terlalu lama menunggu.  Hari Selasa, 14 November 2017, 03.30 WIB, telah lahir Irama Lautan Teduh dalam kondisi sehat, berat badan 2,9 kg dan tinggi 50cm.

IMG_0586.JPG

Teduh tidak bisa langsung di IMD, kami hanya sempat saling temu pipi dan akhirnya bertemu lagi di sore hari untuk inisiasi menyusui yang pertama kali. Tangis haru dan perasaan campur aduk menghiasi hari, Aria terlihat bahagia namun hati dan jiwanya masih tercabik, ia sempat cerita kalau ini adalah pengalaman yang sangat traumatik baginya, melihat saya melewati semua ini, persalinan yang cukup sulit, saat makan tanpa saya, ia masih menitikan air mata mengingat kejadian semalam.

Saya ikhlas, melewati semua perjalanan persalinan yang jauh dari harapan. Persalinan penuh cinta yang diidamkan mesti saya relakan, saya mesti bersyukur Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa menghadirkan Teduh dengan caranya yang Ia pilih, sebagai bentuk pembelajaran bagi kami, cahaya datang bisa dari mana saja, dari cara terpilu sekalipun.

Tiga hari di Asih lalu pulanglah kami. Teduh berkenalan dengan rumah, tidurnya pulas sekali, ia lebih banyak tidur daripada bangun. Dianjurkanlah kami kembali ke Asih keesokannya dan bertemu dengan dr Keumala, ia memvonis anak kami bilirubin tinggi dan mesti disinar biru, kami mengelak cantik dan lebih memilih untuk menempuh cara tradisional, menyusuinya dan berjemur di pagi hari. Bukan saja karena biaya sinar biru seharinya 2,5 juta tapi karena kami lebih percaya kekuatan alam akan membantu Teduh lebih kuat menghalau bilirubin. Alhasil Teduh lebih sering brut brut, beginilah bentuknya kalau dia lagi brut brut..

Lagi-lagi dengan bantuan abang Yanto, Teduh kondisinya membaik, rajin menyusu dan istirahatnya cukup. Sebulan pertama kami bersusah payah beradaptasi, bulan kedua mulai ringan dan tidur teratur karena dapat celah strateginya, hampir masuk bulan kedua kami beropini Teduh sangat suka air, ia sangat suka saat mandi dan setelah mandi.

Kemudian dicobalah berenang di kamar mandi berlanjut seminggu setelahnya berenang di kolam renang di atap rumah yang memang dibuat oleh Papah Mertua untuk berenang cucu-cucunya. Teduh senang bukan kepalang.

IMG_2441.JPG

Teduh kini sangat sehat, periang dan suka jalan-jalan. Kemarin ia tercatat sebagai peserta Konferensi Musik termuda di Ambon dan beberapa kali ikut ayah ibunya bekerja serta memutar musik di kawinan. Terjauh kami bekerja di kawinan teman di Jogja baru-baru ini.

Ahhh Teduh yang menggemaskan. Ia mudah tertidur setiap saya nyanyikan lagu Bubuy Bulan serta mendengar lagu Payung Teduh, mungkin karena karma cantik yang lahir dari perasaan gemas kalau orang-orang menyangka nama Teduh diambil dari band pengusung lagu “Akad” itu. HAHAHA..

Oiya, untuk yang penasaran dengan kegemasan Teduh, silakan ikuti Instagramnya di @iramalautanteduh, si pipi bakso ikan tanpa kuah siap menghiburmu saat sendu.

 

 

 

Advertisements

Senandung Senandika Versi Saya

Di hari musik nasional ini, saya dan Aria ingin membiasakan diri untuk mendengarkan musik dengan cara paling syahdu versi kami. Dulu sekitar 2 tahun yang lalu, kami punya acara Denger Bareng, khusus untuk mendengarkan musik secara seksama tanpa berkegiatan sampingan. Acara itu masih berlangsung hingga sekarang, namun kami berdua merasa perlu lebih mengintimkan diri lagi. Mengurung diri berdua saja, meremangkan lampu kamar dan mendengarkan lagu-lagu dengan “headphone”. Sensasinya aduh gila, meleleh sejadi-jadinya. Album yang bikin saya sesenggukan kali ini adalah Senandung Senandika milik Maliq D’essentials.

 

Kedewasaan yang mereka tuangkan dalam lirik terasa lebih dari sekedar kata. Ada kesadaran tinggi tentang esensi hidup dan hal-hal mengenai nilai serta hakikat peran. Mengenai aransemen dan lagu, tokoh peracik nada di belakang album ini, tentu punya banyak waktu luang untuk mengulik ranah elektronik musik kekinian dibalut ke dalam kemasan komposisi khas Maliq D’ essentials. Bisa disimak di lagu Sayap, tambah menggila di lagu Maya, lagu pengingat identitas di dunia maya ini diracik sedemikian rupa dengan percampuran aroma irama Timur Tengah.

 

Saya selalu yakin, penggubahan musik yang bagus seringkali terinspirasi dari berbagai referensi musik bagus lintas genre. Komposer album Senandung Senandika bisa dipastikan adalah seorang pendengar dan penggali musik yang lihai.

 

Saat saya mendengar Musim Bunga, layaknya lagu-lagu romantis khas Maliq D’essentials, ada nuansa menenangkan yang segar sumringah menghiasi lagu ini. Rasa yang indah ini tak begitu tahan lama, beralih ke lagu lain, ada tawaran rasa yang lebih dalam, membuncah seperti rindu, kenangan terhadap masa kecil dari sudut pandang sederhana, penggambaran sosok guru di lagu Kapur dan sosok orangtua di lagu Idola. Sempat menangis, meresapi apa yang ingin mereka bagi tentang rasa apresiasi pada sosok-sosok pembentuk kita kini.

 

Bila kata dituang dan dimaknai tidak hanya sebagai lirik pelengkap, lebih dari itu, kekuatannya bisa membukakan cakrawala lain. Interpretasi bisa hanya sebuah kemungkinan, jikalau boleh sok tahu, lagu Senang, Senandung Senandika, Titik Temu, Manusia lahir dari keresahan-keresahan lahiriah yang berlapis dan sedikit demi sedikit berbicara di tataran rasa. Berikut petikan kalimat dari tiga lagu tersebut yang bila disambung menjadi kode misi hidup manusia;

 

Manusia biasa seperti kau luar biasa

Bisa terbiasa

Menerima, memahami dan akhirnya memaklumi tanpa ada karena

Sedalam apa baca hati saja, diam tenang

Percaya tak percaya, caranya yang dirahasiakan

Dan percakapan hati pertemukan

Semua kemungkinan mendekat, melihat

Siapakah si pengalah, siapa si jawara

Siapa sang penguasa

Senandung Senandika tiada yang benar salah

Senandung Senandika tiada yang menang kalah

 

Sebuah perjalanan akan garis waktu

Hingga titik temu membukakan pintu

 

Hai Maliq D’essentials maafkan imaji konspirasi ini. Selamat untuk album bagusnya. Terimakasih sudah memberikan rasa nyaman setelah mendengarkan album Senandung Senandika. Malam ini lebih gurih tanpa tambahan bumbu penambah rasa.

 

 

 

Jogjakarta, 9 Maret 2018

Paduan Suara Dialita

Mereka adalah Paduan Suara Dialita. Cari tahu saja cerita di balik keberadaan wanita-wanita hebat ini lalu simpulkan sendiri, mengapa kita perlu terinspirasi untuk selalu berpelukan dalam damai. Saat pertama kali mas Eko mengajukan nama Dialita untuk dibahas di workshop Kata Pahlawan, saya berpikir lebih jauh. Mereka perlu dikenalkan lebih dalam dan mendapat sorotan lebih tajam, di panggung utama, bukan hanya di sore hari di tempat kopi yang cukup 50 orang saja.

Tidak hanya saya dan teman-teman yang hadir, semua yang datang ke Musik Bagus Day perlu tahu untuk #menolaklupa, berdiri pada pemikiran yang adil serta mencoba untuk merasakan gelombang cinta yang besar dari para oma penyintas ini.

Salut untuk semangat tanpa batas. Melewati ruang dan waktu mereka berdiri lewat lirik dan nada, menyanyikan hal-hal yang selalu kita lupa, manusia perlu paham bagaimana cara menyikapi sejarah jua fakta.

Berikut adalah video-video mereka tampil.

 

Kind of Blue

Pagi yang menyenangkan dimulai dengan mengubek-ubek koleksi satu tahun lalu.

Saat itu kami baru saja belajar cara belanja piringan hitam di Tokyo dan menemukan piringan hitam istimewa “Kind of Blue” box set milik Miles Davis. Ini adalah piringan hitam wajib para penikmat jazz untuk masuk ke dunia spiritualnya Miles Davis.

Sebelum menyukai Miles Davis kami terlebih dahulu berkenalan dengan Lou Donaldson dan jatuh cinta dengan siapapun pemain alat tiup jazz, Erik Truffaz salah satunya. 3 orang ini seringkali kami prioritaskan, demi memiliki album ini, saat kere di Tokyo kami makan di Kombine.

Lucunya walau pengorbanan besar, sesampai di Jakarta kami lupa keberadaan album ini, terkecoh dengan album-album lainnya dan menyimpan rapi si box set ini.

Sampai pagi tadi, Aria iseng ingin mendengarkan “Kind of Blue”, lalu kita ubek-ubek isinya yang super banyak. Ada catatan tangan Bill Evans, foto-foto “behind the scene” album ini, buku cerita tentang Miles Davis, piringan hitam biru dan aneka CD.

Kadang melupakan sesuatu untuk seakan mendapatkan kejutan baru adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan di hari Senin.

IMG_5482

Substore Berpisah dengan Pasar Santa

pindahan substore

Baru selesai pindahan Substore Santa. Tempat cinta pernah bersemayam begitu pekat di sana. Dari Mocca, Maliq D’essentials, Dewa Budjana, Bonita, Noh Salleh dan lainnya pernah main dan merilis album mereka.

noh 2

Haru biru karena dulu hanya berdua dengan ABCD dengan cahaya remang berikut baru tau di lantai itu ada yang bunuh diri.

our floor

7 tahun mati lalu riuh lalu terlalu cepat meninggi hingga terkadang terlalu angkuh. Dari yang ratusan mengantri ingin buka kios hingga kini yang datang hanya sesekali lalu. Pasar Santa kian mendung bukan itu yang membuat kami pindah.

Barang Substore kian banyak. 2×2 meter tidak cukup mewadahi, belum lagi turntable titipan teman dan kita reseller utama 2 merk turntable yang ternama (Numark dan Audio Technica), singkat kata, tidak tau mesti bagaimana lagi mendisplay barang-barang itu.

Saya, Aria dan Radit kiat gemar memasak, kami ingin memberikan rasa personal dari telinga, hati hingga perut pada para pelanggan. Kopi secangkir, semangkuk makanan lezat, musik nikmat, bisa tersaji bila kami diberi ruang lebih.

Bukan pantang menyerah dengan keterbatasan. Tapi kami sudah berusaha mengajukan kolaborasi dengan kiri dan belakang namun tidak ada respon baik. Akhirnya kami mencoba untuk mengajak teman-teman datang ke rumah untuk ruang yang lebih leluasa. Melihat keberhasilan Substore Tokyo dan Bandung yang bisa memfasilitasi obrolan ringan hingga berat, pelanggan bisa masuk ke dalam kopi yang disesap, kiranya Substore Jakarta iri hati ingin melalukan hal serupa.

Di basement bawah rumah ada sebuah niat untuk membuat ruang yang lebih bebas gerak, bar kecil, studio musik, bila hendak bisa pun dibuat pameran, namun sepertinya belum dekat-dekat ini. Masih membutuhkan beberapa bulan lagi. Namun jangan segan untuk mampir ke Sama House jalan Saraswati no 23C, pintu kami terbuka lebar untuk kalian, memasak, mendengarkan musik, bertukar pikiran, kopi, teh, jus, semua tersedia…

Hati kami tidak bisa tidak sedih melepas pasar Santa namun tak ada daya perubahan adalah sesuatu yang paling abadi. Esok, lusa atau nanti kita tidak pernah akan tau apa yang bisa terjadi. Yang terbaik adalah saat ini.

Musik Itu Haram?

Sujoso Karsono a.k.a Mas Jos, seorang bapak yang inspiratif besar di tahun-tahun musik Indonesia sedang jatuh bangun, sekitar tahun 50-60an.

Kiprahnya banyak sekali, di antaranya membangun Irama records, membuat radio Elshinta, mengembangkan jazz, progresif hingga Hawaiian Music di Indonesia. Ia membuat harum nama Indonesia karena membawa Indonesian All Star Jazz (Benny Mustafa, Jack Lesmana, Bubi Chen, Marjono, Jopie Chen manggung dan rekaman di Jerman di bawah label Saba.

Tidak hanya itu, ia pun mencari bibit-bibit muda dan mengorbitkan mereka, salah satu yang mungkin kita luput cerita adalah Koes Bersaudara.

Ini tentang Sujoso Karsono, dan masih banyak lagi cerita menggugah dari musisi-musisi Indonesia lama yang tidak terhitung jumlahnya. Belum pun terhitung musisi masa kini yang ikut berperan besar dalam perubahanan, menjadi tameng garda terdepan untuk Indonesia. SLANK dan Iwan Fals dua di antaranya.

Pada teman-teman musisi maupun pecinta musik, tetaplah dengarkan nurani untuk bergerak untuk musik, jangan ragu untuk menjadi diri sendiri. Walau ada oknum berkedok Islam bilang musik itu haram. Islam sendiri adalah berserah diri (total surrender), bila misi dalam hidupmu kau temukan di musik. Kamu berdiri secara Islam untuk musik dan kemaslahatan banyak orang.

Pilihlah musik atas dasar panggilan, sampaikan kebaikan-Nya melalui nada. Musik itu jiwa yang lahir atas keinginan-Nya melalui akal budi manusia. Jangan lupa juga bila Wali Sanga mengantarkan agama Islam dengan penuh cinta salah satunya dengan musik. Miles Davis bersama albumnya Kind of Blue bisa jadi contoh musik yang sangat dekat dengan spiritual.

Sejarah yang akan mengingat kiprahmu. Jangan takut untuk berjalan lurus, Allah Maha Penyayang. Dalam musik banyak cercah rasa sayang, inspirasi dan harapan. Bilapun kamu hilang kepercayaan pada politik, pulanglah pada musik.

Tulisan spontan menanggapi ini;

Tentang Musik Itu Haram

https://t.co/C9xUhY0rNQ?ssr=true

Salam musik,

Pecinta musik yang sedang melakukan upaya terapi musik untuk manula dengan penuh kasih dan sayang..

Abah Iwan Idolaku

Malam itu saya terjebak macet 5,5 jam dari Jakarta ke Bandung untuk menonton dan menghadiri diskusi bersama Iwan Abdurahman yang akrab disapa Abah Iwan. Beliau adalah generasi awal Wanadri, penggubah lagu di masa awal Bimbo dan penggubah lagu-lagu alam yang sangat terkenal seperti Burung Camar dan Melati dari Jayagiri. Saya dan Aria pun sangat menyukai karya beliau bersama Kalikausar.

Ini foto terakhir yang saya ambil setelah tahu ternyata selama acara tidak boleh mengambil gambar.

Foto abah Iwan bersama pasukan tentara khusus, ia bercerita tentang teman-temannya yang memiliki tato tapi dia tidak punya. Akhirnya dia memamerkan bekas cacar yang berbentuk angka 10 di lengan atasnya seraya tersenyum bangga kalau ia punya tato juga. Ada salah satu tentara yang salah kira; “Waaa kamu sudah makan 10 orang ya?”

Di balik cerita-cerita humornya Abah Iwan sangat spiritual sekali, ia berkeliling dunia menaklukan berbagai gunung dan bernyanyi bersama alam namun tak lupa mendekatkan diri pada Tuhan. Cerita-ceritanya menggetarkan. Beliau sangat senang dengan effort kami yang datang dari Jakarta seraya menceritakan niatan yang tadinya mau minta ttd abah Iwan di vinyl Kalikausar kami tahun 79.

Sangat kagum sekali pada abah Iwan, tak heran mengapa nama bandnya dipilih Kalikausar yang dalam sanskerta berarti sungai sejuk yang mengalir dari surga..

Terimakasih banyak untuk mas Budi Kineruku, tanpa undangan dari beliau kami takkan bisa menikmati alunan musik Abah Iwan langsung dari penggubahnya.

 

Sumber foto Burung Camar; Emilian Robert Vicol

 

Berjalan Lebih Jauh Bersama Banda Neira

#TerimakasihBandaNeira

img_2579Dear Ananda dan Rara,

Saat itu tahun 2012, 5 tahun yang lalu, di waktu yang sama kalian membuat Banda Neira, kami pun berjalan lebih jauh ke Timur dengan merekam jejak melalui menujutimur.com.

Tanpa sadar lagu-lagu kalian menjadi pengubah kehidupan kami kelak. Setiap hari, lagu-lagu dari album pertama menjadi musik latar perjalanan kami saat menyelam lebih dalam, memasuki hutan, bertemu dengan orang-orang baru yang bercerita banyak tentang hidup yang sesungguhnya. Kami mengarungi semuanya sembari mengupas lirik kalian, bersenandung di tiap waktu. Kami tidak sekadar menikmati nada, lebih dari itu, kami ingin menjadi pribadi yang bermanfaat seperti kalian yang memberi semangat di saat-saat tersulit kami dalam perjalanan berkeliling timur Indonesia waktu itu.

Hingga satu saat Menuju Timur benar-benar tiba di Banda Neira, bertemu dengan sebuah tempat yang kalian jadikan nama pengikat cerita dari lagu-lagu yang selalu mencengkerami sanubari kami. Tidak ada hal yang pertama kami lakukan selain merekam keadaan di Banda Neira sambil mendengarkan seluruh lagu kalian lalu mengunggah di media sosial sambil berkhayal andai kalian membuat konser intim di sini. Banda Neira di Banda Neira.

Sayang khayalan kami mesti pupus setelah tahu kalian moksa. Namun karya kalian masih hidup, memedar menjadi cahaya yang sinarnya masih bisa terdengar kapan pun saat kami mau, melalui lagu.

Dear Ananda dan Rara,

Kami sebelumnya enggan bersaksi kalau mendengar lagu-lagu kalian membuat kami menangis. Tapi kami tampaknya mesti jujur agar kalian tahu betapa berpengaruhnya apa yang kalian lakukan, berkesenian untuk mengubah kehidupan banyak orang.

Kami dua di antara banyak orang yang terus berjalan tanpa henti, mengamini semua lirik ciptaan kalian. Membagi pada banyak manusia lainnya yang akhirnya turut terinspirasi.

Berkat kalian, kami bisa memotivasi diri sendiri untuk bangun pagi, memperhatikan jendela, memelihara mimpi, merawat api dalam dada, untuk mencintai hidup secara tulus tanpa syarat, membiarkan diri tersesat, terhempas ke tanda tanya lalu kembali meyakini semua warna yang berpendar di sekitar. Karena kami tahu semesta berbicara tanpa bersuara.

Terimakasih membuat sepi kami indah. Terimakasih atas kejujuran kalian dalam mencipta. Selamat lahir kembali di lain waktu. Sampai jumpa lagi.

surat yang tertunda,

Intan dan Aria

 

Kesan yang Tertinggal dari “Raksasa”

Satu hal yang tertunda dari sisa tahun 2016 adalah menceritakan betapa menyenangkannya hadir di tengah-tengah pementasan drama musikal “Raksasa”. Kagum dengan proses menjahit cerita, menanam pesan, kerja produksi, balutan musik serta bagaimana anak-anak begitu menikmati perannya di atas panggung.

Kala itu Sazki, teman saya yang menjadi salah seorang panitia drama musikal Raksasa, meminta saya untuk datang ke project terbarunya, menggarap drama musikal yang diprakarsai oleh Jendela Ide dan KPK. Saya belum menyangka kalau drama ini dibuat untuk anak-anak dan melibatkan banyak sekali anak-anak. Kebetulan saya sedang main ke Bandung, saya menyempatkan diri melihat proses produksi, anak-anak latihan dan tim orkestra latihan. Saat menonton, saya tidak menyangka hasil ramuan Jendela Ide bisa begitu apiknya menyeret saya ke sebuah negeri imajinasi yang menyematkan nilai-nilai integritas.

img_1792

Ini bukan perkara mudah mengingat sasaran yang dituju adalah anak-anak. Berkomunikasi tentang nilai pada anak-anak berarti menguji pemilik ide untuk terjun menjadi anak-anak, memelihara pikiran liar dan bermain-main dalam cerita sebebas anak-anak. Untungnya para penggarap drama musikal “Raksasa” cukup sukses menghidupkan jiwa anak-anak dalam diri mereka. 90 persen anak-anak yang hadir di waktu saya menonton, terlihat hanyut dan menikmati cerita. Tokoh-tokoh unik yang dibuat pasti akan berbekas saat mereka pulang, lagunya yang mudah disenandungkan, tampaknya bakal jadi irama mereka selama beberapa hari.

img_1518

Kesuksesan sebuah pertunjukan bisa dihitung seberapa banyak wajah bahagia selepas menonton. Dan nyatanya yang habis menonton melontarkan komentar positif.

Senangnya telah mengikuti perjalanan mereka dari awal. Tim produksi yang sangat giat melakukan workshop ke sekolah-sekolah guna menyebarkan langsung nilai-nilai integritas melalui metode workshop gerak dan workshop bunyi mencuri perhatian anak-anak. Tidak heran saat pementasan mereka begitu terlatih untuk menyihir anak-anak, menonton hingga habis tanpa rasa bosan.

Catatan saya hanya pada anak-anak yang bermain tampak masih malu-malu untuk mengambil perannya, mungkin karena mereka baru berlatih peran saat pementasan ini diadakan, mereka bukan anak yang belajar seni peran secara khusus. Namun tidak menutup kemungkinan setelah ini, Jendela Seni membuka kelas seni peran untuk anak-anak. Mereka butuh ruang ekspresi untuk merealisasikan mimpi-mimpinya. Masih terbayang jelas wajah anak-anak yang bahagia saat melihat makhluk unik satu persatu keluar. Saya yakin mereka bahagia karena bentuk-bentuk seperti itulah yang lahir dari imajinasi anak-anak.

Sepulang dari menonton “Raksasa” saya menjadi yakin bahwa banyak cara untuk tetap optimis pada negeri ini, menanamkan nilai-nilai pun bisa menggunakan cara yang menyenangkan sesuai dengan sasarannya.

Janganlah kolaborasi “Raksasa” antara KPK dan Jendela Ide selesai sampai di sini. Anak-anak sangat butuh asupan nutrisi di hidupnya. Mungkin mereka jengah dengan kegiatan rutinitas dan ingin mencari hal lain yang menyenangkan hati.

 

Great job untuk para “tim Raksasa”dan  terimakasih sudah menyempatkan membuat drama musikal indah ini.

IMG_4984.JPG

Om Telolet Om Mendunia

Fenomena pengumpul klakson bis sudah ada dari sekitar 2 tahun yang lalu. Bisa diintip dari link Youtube Indo Bus Spotters yang mengumpulkan kegiatan anak-anak yang sering meminta klakson pada bis antar kota. Kemudian mulai ramai lagi di media sosial setelah musisi-musisi EDM merasa kebingungan dengan spam humor ungkapan “om telolet om” di kolom komentar Instagram mereka.

Skrillex sampai membuat lagu berjudul Born Up The Telolet. Selain itu musisi-musisi EDM yang lain turut meremix; http://www.billboard.com/articles/news/dance/7632431/om-telolet-om-songs-best-remixes-list. Belum lagi K-Pop singer Bambam ikut mengomentari dan menjadi viral lalu diangkat menjadi berita oleh Billboard. So awesome!

And the most coolest thing salah satu yg main di stage Garuda kemarin di DWP, memposting Telolet yang sama sekali gada hubungannya dengan klakson bis,  Zedd posting video travelling sambil promoin Indonesia secara ga langsung dengan mengcapture Bali berikut bawah lautnya! Thank you, Zedd!

Sebagai seorang diver gue happy banget laut Indonesia dihighlight..

Ya beginilah Indonesia kita yang unik ini, hal-hal yang tak terpikirkan akan menjadi menarik karena dikemas menjadi hal-hal sederhana. Mengutip satu pendapat dari Dian Paramita di akun Path-nya:

Don’t say Om Telolet Om has no meaning, so we should just enjoy it. Please do not underestimate the meaning behind it. Because it means happy kids. And not at all of us can be that happy over something so simple. Lucky them.

Karena masyarakat yang bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri adalah masyarakat kreatif yang siap menjadi bangsa besar. HAHAHA

music, eat, cooking, travelling, and parenting

%d bloggers like this: